Pentingnya Sarapan untuk Perkembangan Gizi dan Otak Anak
Pentingnya Sarapan untuk Perkembangan Gizi dan Otak Anak
Risty Khoirunisa, Mahasiswa S1 Universitas Diponegoro, Semarang
Berangkat ke sekolah tanpa makan pagi bukanlah kebiasaan yang baik untuk anak. Sarapan bukan hanya penting untuk menunjang kebutuhan fisiknya, tetapi juga mempengaruhi pencapaian prestasi belajar anak. Tanpa nutrisi yang lengkap di pagi hari, anak akan cenderung sulit berkonsentrasi karena asupan nutrisi ke otak terganggu, lambat dalam merespons, serta menurunnya daya pikir dan daya ingat. Akibatnya, anak akan sulit menerima pelajaran dengan baik.
“Secara rata-rata, anak yang tidak pernah sarapan memiliki daya pikir dan kemampuan mengingat yang lebih rendah dibandingkan mereka yang makan setiap pagi,” ujar Dr. Ronald E. Kleinman, M.D., dokter spesialis gastroenterologi anak serta pakar nutrisi yang mengajar di Harvard University, Amerika. (parenting.co.id)
Sejumlah studi membuktikan pernyataan tersebut. Di Inggris, pernah dilakukan serangkaian penelitian terhadap 600 orang murid sekolah di Inggris dari keluarga berpenghasilan rendah dan sedang mengenai pengaruh kebiasaan sarapan dan performa anak di sekolah. Hasilnya, dibandingkan rekannya yang terbiasa menyantap sarapan, anak-anak yang tidak terbiasa sarapan ternyata lebih sulit berkonsentrasi, lambat menanggapi, dan memiliki perhatian amat rendah terhadap pelajaran.
Itu sebabnya, di Amerika diadakan program Makan Pagi di Sekolah (School Breakfast Program) bagi anak-anak sekolah dasar yang datang dari keluarga berpenghasilan rendah. Sejak program tersebut dimulai pada tahun 1996, menurut Dr. Keith Ayoob, asisten profesor di bidang pendidikan dari Albert Enstein College of Medicine, New York, terlihat peningkatan kualitas para siswa dari sisi akademis.
Dikutip dari www.parenting.co.id, Rutinitas sarapan berperan pula menghindari risiko obesitas pada anak-anak. Menurut Dr. Sri Nasar, anak yang tidak sarapan cenderung merasa kelaparan sepanjang hari, lalu makan dalam porsi besar pada jadwal makan siang dan malam. “Juga, mereka cenderung lebih banyak mengemil makanan yang tidak sehat, seperti permen, cokelat, dan gorengan, untuk mengatasi rasa lapar. Jika nafsu makan tidak terkendali, risiko obesitas amat mungkin terjadi,” ujarnya.
Berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 pada anak usia 4-18 tahun, Sarapan memiliki kontribusi besar dalam total asupan harian, yaitu sekitar 15%-30% kebutuhan gizi harian. Wied Harry Apriadji, seorang ahli gizi dalam artikelnya menyatakan, “Tidak sarapan berarti kebutuhan harian beberapa vitamin dan mineral menjadi tidak tercukupi. Sekali saja anak tidak sarapan, konsumsi vitamin A, E, B6, Riboflavin, dan tiamin. Serta mineral kalsium, fosfor, magnesium, dan zat besi rata-rata kurang dari 2/3 kecukupannya perhari. Padahal zat gizi tersebut sangat diperlukan dalam tumbuh-kembang anak”
Namun sangat disayangkan, karena penelitian membuktikan jika 16,9%-59% anak sekolah, remaja dan orang dewasa di Indonesia tidak sarapan. Sementara itu, 44,6% anak sekolah yang sarapan memiliki kualitas gizi sarapan dengan kualitas rendah. Meski sarapan dianggap sepele, namun ada efek jangka panjang yang terjadi. "Bangsa ini akan menghadapi dua kegagalan apabila anak-anaknya tidak sarapan. Yang pertama, tak sarapan bisa menurunkan kemampuan berfikir dan kognitif. Selain itu, tidak sarapan juga bisa menyebabkan kegemukan," ungkap Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS selaku Ketua Umum PERGIZI PANGAN.
Ditambahkan Hardinsyah, tidak sarapan juga berpengaruh besar terhadap prestasi anak di sekolah. "Karena tidak sarapan, asupan gizi tidak seimbang dan dapat menurunkan berpikir dan belajar anak di sekolah. Selain itu, pertumbuhan dan ketahanan fisik juga terganggu," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (cakrawanita.blogspot.com).
Makanan dan Minuman yang Baik untuk Sarapan
Porsi sarapan tidak perlu sebanyak porsi makan siang, secukupnya saja. Bila terlalu banyak, akan membuat anak mudah mengantuk, dan sulit berkonsentrasi. Jangan lupa untuk selalu memberikan anak air putih secukupnya di pagi hari. Selama anak tertidur, ia kehilangan banyak ion dan mineral yang terdapat pada cairan tubuh. Oleh karena itulah, mengonsumsi air putih menjadi keharusan saat anak anda bangun tidur di pagi hari.
Idealnya sarapan pagi harus dapat memenuhi 1/3 bagian dari konsumsi makanan per orang setiap harinya. Sarapan yang baik bukan hanya ditujukan untuk mengenyangkan tapi terlebih harus bergizi lengkap dan seimbang. Maka dari itu, menu sarapan yang baik harus mengandung karbohidrat, protein, vitamin dan lemak, serta cukup air dan serat untuk mempermudah pencernaan dan penyerapan makanan. Oleh karena itu, disarankan mengonsumsi buah dan sayur di pagi hari yang memiliki cukup air dan serat, seperti selada, sawi, wortel, labu, jeruk, apel, semangka, pepaya, melon, dan lain-lain.
Karbohidrat pun tidak harus nasi, dapat pula diganti dengan roti, sandwich, spaghetti, makaroni, mie atau bihun, olahan tepung terigu dengan telur dan gula, semacam martabak, pancake, dan donat. Sarapan dengan makanan yang mengandung karbohidrat komplek dan serat, akan memenuhi kebutuhan glukosa dalam tubuh untuk meningkatkan konsentrasi dan daya ingat. Protein banyak ditemukan pada telur, tahu, tempe, ikan, kacang-kacangan dan susu. Sedangkan untuk lemak banyak diperoleh dari mentega, margarin, keju, atau susu. Dan yang terakhir, serat dan vitamin banyak ditemukan pada sayur maupun buah.
Karbohidrat sekalipun mengenyangkan hanya mampu mempertahankan kestabilan gula darah kira-kira 2 jam, sementara protein dua kalinya. Karena itu, protein wajib disertakan dalam sarapan. Satu lagi yang harus diingat, memang makanan manis memberikan energi lebih karena sukrosa yang ada di dalam gula, Namun, hindari memberikan makanan atau minuman yang terlalu manis pada anak. Sukrosa dalam gula yang mrupakan karbohidrat sederhana sangat mudah diubah menjadi gula darah. Hal ini membuat ‘panik’ hormon insulin. Hormon ini secara membabi buta lalu mengubahnya menjadi glikogen dan segera menyimpannya dalam hati. Akibatnya, kadar gula darah pun menipis tiba-tiba, sehingga anak menjadi lebih mudah merasa lelah. Oleh karena itu, tambahkan gula secukupnya saja pada makanan atau minuman mereka. Segala sesuatu yang terlalu berlebihan memang tidak bagus, bukan?
Sebaiknya sediakan selalu sayur atau buah dalam setiap sarapan. Dan berikanlah susu pagi dan malam kepada anak anda, jangan takut anak anda mengalami kegemukan atau overweight. Selama anda memberikan makanan dan minuman secukupnya kepada anak anda, hal itu tidak akan terjadi. Dengan sarapan, anak akan berhenti mengemil dengan sendirinya. Sarapan dengan kualitas yang baik bukan hanya saja menstimulus peningkatan kerja otak, tapi juga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis anak. Penanaman pentingnya sarapan sedari dini bagi anak akan membuatnya terbiasa sarapan dan meningkatkan kesehatan tubuh dan kecerdasan otaknya selagi dalam masa perkembangan. Apalagi jika itu dilakukan bersama keluarga dalam satu meja, bukankah juga akan mempererat ikatan kebersamaan dalam keluarga? Anak tentu akan bagus moodnya dipagi hari jika mereka sarapan bersama dengan keluarga, bukan?
sarapan bareng yo, biar lebih sehat.. :)
BalasHapus