[Cerpen] Si Ceroboh dan Si Hijab Merah
Duh lagi lagi. Gadis manis berhijab merah itu. Terlihat oleh mata entah untuk berapa kalinya, namun lidah ini kelu untuk menyapa.
Bagaimana tidak aku hanyalah orang asing baginya, yang ada bisa-bisa dikiranya aku maniak atau orang aneh jika tiba-tiba mendekat. Stasiun kereta yang bahkan kuhafal tempat ia biasa turun sudah mulai dekat. Dua stop lagi ia akan turun, tapi kaki ini tetap berat melangkah untuk mendekat.
Satu stop lagi, Dia bergerak mendekat ke pintu gerbang. Akupun begitu.
Sampailah pada stasiun pemberhentiannya, pintu terbuka, dia meloncat keluar. Kuputuskan meloncat keluar juga. Bukan apa apa, mungkin tidak ada yang lihat, tapi tadi kartu e-money nya hampir terjatuh dari gandulan tasnya, dapat kutangkap sebelum jatuh ke lantai kereta, mungkin talinya sudah rapuh atau kurang pas memasang gandulannya. Ah, tak usahlah dipikir, yang penting karena itu aku jadi punya kesempatan berbicara dengannya.
Kukejar dia yang berjalan agak cepat. Ternyata kakinya panjang juga, cukup cepat jalannya untuk seorang perempuan. Kupanggil namun dia enggan menoleh, maka kutepuk pundaknya, kemudian dia berpaling dengan penuh tanda tanya.
"Ada apa Mas?" Ujarnya lembut. Benar-benar manis. Memang bahaya kalau logika otak sudah tercampur oleh hati yang sedang jatuh cinta, apapun yang terucap oleh si dia pasti terasa manis. Maklum, hormon serotonin bekerja paling maksimal saat orang jatuh cinta, itu sebabnya mudah sekali menyenangkan hati seseorang yang sedang jatuh cinta.
"Ah ini tadi terjatuh" Ujarku sambil menyodorkan kartu biru berlogo salah satu bank ternama Indonesia itu. Aku dapat melihatnya terkejut kemudian memeriksa tasnya.
"Ya ampun. Terimakasih. Terimakasih sangat. Tanpa ini, aku tidak akan bisa keluar. Terimakasih banyak" Ucapnya.
"Iya sama-sama Mbak, alhamdulillah masih rejeki mbak kartunya" Ujarku sambil tersenyum.
Terpikir dalam kepalaku bagaimana bisa berkenalan dengannya, bagaimana bisa meminta nomor kontaknya. Aneh kah meminta nomor kontak pada saat pertama kali bertemu begini, tapi kesempatan mana akan datang dua kali.
Kucoba memberanikan diri, bertanya namanya sambil merogoh mencari handphone ku. Namanya Intan ternyata, nama yang indah. Kurogoh sakuku, kubuka tasku tapi tak kutemukan handphone ku.
"Ada apa Mas? Ada yang hilang?" Tanyanya ikut khawatir.
"Handphone ku tidak ada" jawabku panik, masih sambil merogoh sela-sela tas. Sial, hp baru sebulan pula, kemana sih disaat begini malah tidak ada.
"Mas, mau coba telepon dengan handphone saya?" Ujarnya sambil mengulurkan handphone nya.
Kuterima saja, tanpa ada pikiran apa-apa. Kucoba telepon handphone ku--untung saja kuhafal nomernya--sayangnya tidak ada yang mengangkat.
Aku menghela nafas. Kucoba ingat-ingat kembali, mungkin di kantor, pikirku. Kucoba mengecek lokasi handphoneku dengan google, aku izin kepadanya untuk masuk ke akun google dan ternyata hp ku memang benar di kantor. Aku menghela nafas panjang pertanda lega, baiklah aku harus datang pagi-pagi sekali besok untuk mengambilnya.
Aku berterimakasih dan mengembalikan handphone kepada si pemilik, lalu berpamitan. Sayang memang kami tidak mengobrol banyak. Aku memang ceroboh. Lagi-lagi, entah sudah keberapa kali aku meninggalkan barang di kantor, lupa membawanya. Bahkan aku pernah meninggalkan barang di kereta dan kemudian hilang begitu saja. Seringkali aku lupa juga dengan kantong belanjaan. Duh memang ceroboh dan amat sangat pelupa.
---
Besoknya, aku datang ke kantor pagi-pagi sekali, bahkan pintu gerbang belum dibuka, aku masuk begitu mas-mas OB datang membukakan pintu, dan alhamdulillah handphone ku masih ada di bilik mejaku, bersih tidak tersentuh, baterai juga masih ada, kubuka beberapa chat dan telepon yang masuk. Ada satu nomor yang tidak dikenal. Aku terkesiap, tanpa sadar aku mendapatkan nomornya, nomor si gadis manis itu, dengan cara yang amat tidak diduga. Memang sudah takdir mungkin aku dengannya. Pikirku dengan percaya diri saat itu.
Kucoba mengirimkan chat dengan mengatakan kalau handphone ku sudah kembali ke tanganku dan berterimakasih atas pinjaman teleponnya. Tadinya aku sungkan mengirim, kupikir ribuan kali sebelum memutuskan mengirimnya, namun hingga malam tidak ada balasan sama sekali darinya. Pupus sudah, pikirku.
Kutemukan instagramnya, berkat nomornya. Kulihat isi instagramnya banyak tentang islam dan kebaikan-kebaikan didalamnya, ada satu dua fotonya yang dipampang itupun bersama dengan orang-orang sehingga tidak terlihat jelas raut wajahnya, tapi aura kebaikan selalu terpancar darinya. Aku menghela napas. Aku mengerti wanita sebaik ini tidak akan mempan bujuk rayu godaan pria sekadar lewat chat saja, pun juga sangat menjaga dirinya, mana mau begitu saja berkenalan lebih dekat dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal. Lagipula sepertinya aku belum pantas mendapatkannya, sholatku saja masih bolong-bolong. Sudahlah lupakan saja. Begitulah sifatku. Bukan menyerah, lebih tepatnya mengukur kapasitas, dan aku rasa wanita seperti ini tidak bisa didapatkan dengan aku yang masih seperti ini.
Aku yang masih seperti ini? Kalau memang merasa tidak pantas bukankah mempantaskan diri akan lebih baik ketimbang menyerah begitu saja?
-----
Waktu terus berlalu tanpa peduli penderitaan atau kebahagiaan seseorang, memang benar pepatah yang mengatakan waktu adalah pedang, bahkan raja yang berkuasa saja bisa kalah oleh pedang waktu yang bisa menghantarkannya ke Tuhan kapan saja tanpa ia duga. Dalam hal ini waktu memberikan sumbangsih positif padaku. Aku yang sekarang sudah menjadi lebih baik dari yang dulu. Seiring berjalannya waktu, aku memperdalam ilmuku dengan mengikuti kajian-kajian, memperbaiki bacaan qur'anku dengan mendaftar di salah satu lembaga untuk tahsin dan tahfidz, juga memperbaiki sholat dan amalan-amalanku. Aku yang sekarang ingin menyempurnakan agama dengan cara terbaik yang di-ridhoi-nya. Maka dari itu kupersiapkanlah proposal ta'aruf dengan orang yang saat itu membuatku tertarik kepadanya.
Ada yang bertanya, Lalu bagaimana dengan gadis itu?
Aku sudah belajar mengikhlaskan-Nya, bagaimanapun dia sudah membawa energi positif pada kehidupanku dan itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak pernah mencoba mencari tahu bagaimana kehidupannya karena aku takut hatiku yang sudah mengikhlaskannya dengan mudah berpaling, kembali menginginkannya.
Sudah 3 tahun berselang setelah pertemuan pertamaku denganmu di stasiun itu..
Aku sudah belajar mengikhlaskan-Nya, bagaimanapun dia sudah membawa energi positif pada kehidupanku dan itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak pernah mencoba mencari tahu bagaimana kehidupannya karena aku takut hatiku yang sudah mengikhlaskannya dengan mudah berpaling, kembali menginginkannya.
Sudah 3 tahun berselang setelah pertemuan pertamaku denganmu di stasiun itu..
3 tahun aku dan kamu tidak memiliki kontak apapun, walaupun aku memiliki nomormu, tapi demi menjaga hati selalu kuurungkan niatanku..
3 tahun berlalu dengan aku yang semakin memperdalam agama, menyiapkan diri menjadi imam yang baik untuk siapapun pendampingku kelak..
3 tahun dan lalu takdir selucu itu mempertemukan kita, tanpa disangka, saat kusudah mengikhlaskanmu, kau justru didatangkan kepadaku oleh-Nya..
Lalu berselang 5 bulan kemudian, kita menikah.
Takdir sungguh lucu, bukan?
Sekarang aku sadar, mengapa dua proposal ta'arufku sebelum bertemu denganmu ditolak, mungkin itu karena mereka menungguku mengirimkannya kepadamu, dambaan hatiku sejak lama yang membuatku kembali meletakkan hatiku kepada Tuhan.
-----
Kamu tahu? aku sadar, aku bukan hanya ceroboh dalam hal meletakkan barang-barang saja, tapi juga ceroboh dalam hal meletakkan hati. Darinya aku belajar, kalau aku tidak seharusnya meletakkan hatiku padanya, tapi seharusnya kuletakkan kepada sang pemilik hati sebenar-benarnya, Tuhan yang maha membolak-balikkan hati.
Lihat? saat kuletakkan hatiku padamu, kamu urung berpaling padaku. Namun saat kumulai meletakkan hatiku pada Tuhan, Kuasa-Nya mendekatkan aku dan dirimu tanpa aku minta, saat aku sudah pasrah pada siapapun jodohku, saat aku sudah pasrah pada banyaknya penolakan dan kegagalan dalam usahaku untuk menyempurnakan agama. Tuhan hadirkan kamu kembali ke hidupku dengan cara yang tidak pernah aku duga. Tuhan dekatkan aku dan kamu dengan kasih sayang-Nya, bahkan mengikat kita dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Saat kumeletakkan hatiku kepada-Nya, Tuhan justru memberikan apa yang paling kuinginkan, yaitu kamu. Saat ku mengikhlaskan segalanya kepada-Nya, berserah diri hanya kepada-Nya, kamu justru dihadirkan untuk memenuhi hari-hariku, menjadi nestapa dalam gelapku sampai maut memisahkan.
Lihat? saat kuletakkan hatiku padamu, kamu urung berpaling padaku. Namun saat kumulai meletakkan hatiku pada Tuhan, Kuasa-Nya mendekatkan aku dan dirimu tanpa aku minta, saat aku sudah pasrah pada siapapun jodohku, saat aku sudah pasrah pada banyaknya penolakan dan kegagalan dalam usahaku untuk menyempurnakan agama. Tuhan hadirkan kamu kembali ke hidupku dengan cara yang tidak pernah aku duga. Tuhan dekatkan aku dan kamu dengan kasih sayang-Nya, bahkan mengikat kita dalam ikatan suci yang bernama pernikahan. Saat kumeletakkan hatiku kepada-Nya, Tuhan justru memberikan apa yang paling kuinginkan, yaitu kamu. Saat ku mengikhlaskan segalanya kepada-Nya, berserah diri hanya kepada-Nya, kamu justru dihadirkan untuk memenuhi hari-hariku, menjadi nestapa dalam gelapku sampai maut memisahkan.
Komentar
Posting Komentar