Belajar Mencintai Apa yang Kita Dapatkan

Flashback ke beberapa tahun lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki ke Universitas Diponegoro sebagai Mahasiswa Baru Teknik Geodesi--yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku--, Universitas yang ingin kumasuki sebelumnya hanyalah UGM dan UI, sama sekali tidak terpikir akan berkuliah di Universitas yang berlokasi di ibu kota Jawa Tengah ini, apalagi berkecimpung di dunia organisasi yang sebelumnya belum pernah kulakukan saat SMA, yang mungkin tidak akan pernah kulakukan jika berkuliah di Universitas Indonesia. Semua itu amat berkontribusi dengan aku yang sekarang, tanpa kuliah di UNDIP juga menceburkan diri di organisasi, mungkin aku yang sekarang tidak pernah ada.

Berkecimpung di 4 organisasi saat awal masuk kampus memang cukup berat, tapi syukurlah berkat itu kepala tidak terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang tidak penting (baca: percintaan dan dramanya), karena sudah cukup lelah dengan urusan kampus juga organisasi. Berkecimpung di organisasi juga membuat diriku menyadari bahwa aku memiliki passion untuk belajar tentang manusia dan psikologi. Disinilah hasrat untuk pindah jurusan mulai terbersit--karena memang aku belum begitu mencintai bidang studi yang kini kupelajari--. Aku mulai tertarik untuk berganti jalur ke psikologi yang amat sangat jauh dengan jurusanku kala itu yang berbasis Teknik.

Pikiran-pikiran untuk mendaftarkan diri dan test SNMPTN untuk kedua kalinya demi berganti haluan jurusan ke Psikologi (saat itu hanya terbersit Psikologi UNPAD atau Psikologi UNS, karena hanya dua universitas itu yang menyertakan program studi psikologi untuk pilihan IPA) terus terbersit ditengah padatnya kegiatan organisasi juga perkuliahan. Bapak dan ibu bilang tidak apa jika ingin mencoba, namun yang terngiang waktu itu adalah uang pangkal yang dibayarkan sewaktu itu cukup banyak (mungkin kalau saat itu sudah berlaku sistem UKT, pindah kuliah bukan menjadi momok yang terlalu sulit) dan jika pindah nantinya tentu saja harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar uang pangkal yang pastinya tidak sedikit. Kasihan Bapak Ibu jika harus mengeluarkan sejumlah uang hanya demi egoku. Belum lagi mengulang waktu satu tahun, tertinggal dari teman-teman lain yang seangkatan. Wajar saja waktu itu ego masih lebih banyak berkuasa, maklum masih remaja.

Belum lagi amanah di 4 organisasi dan kegiatan yang belum selesai dilaksanakan, laksana kabur meninggalkan tanggung jawab nantinya jika memutuskan pindah. Akhirnya karena pertimbangan-pertimbangan tersebut, dengan berat hati aku memutuskan untuk sama sekali tidak mencoba, ketimbang nantinya semakin pusing dengan pilihan jika akhirnya diterima. Menyesal? tidak juga, dengan melepaskan pikiran itu aku akhirnya belajar ikhlas dan belajar untuk sepenuh hati mendedikasikan waktuku di UNDIP dengan baik, dengan menghabiskan waktu untuk kegiatan positif dan menjadikan diri ini sebagai individu yang lebih baik. Aku ingin buktikan walaupun aku berakhir disini, masa depanku masih penuh dengan kesempatan yang cemerlang. Aku ingin buktikan pilihanku tidak salah--atau jikapun salah aku ikhlas menerimanya. Layaknya nasi yang sudah menjadi bubur, lebih baik tambahkan ayam, bumbu kuning, kecap, cakwe, kacang dan kerupuk kan untuk memperindah estetikanya?


Dan kamu tahu? pilihanku membawaku untuk belajar banyak hal selama berkuliah dan berinteraksi disana, bukan hanya pengetahuan ilmiah, tapi juga hal-hal yang lain yang berharga untuk kehidupan, untuk menjadi aku yang sekarang. Akupun belajar mencintai bidang studi yang kini kudalami, aku juga belajar tidak selamanya kita mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi kita bisa belajar menerima apa yang kita dapatkan--lalu ikhlas melepaskan yang kita inginkan--yang memang bukan untuk kita.

Kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita cintai, tapi kita bisa belajar mencintai apa yang kita dapatkan.

Dan ya--aku memutuskan mencintai bidang ilmuku sekarang--semakin dalam ku belajar semakin sungguh aku merasa tidak tahu apa-apa soal bumi, semakin aku sadar dengan kekuasaan Allah. Mungkin memang disinilah tempatku, bukan di psikologi. Walau selalu menyenangkan untuk mempelajari psikologi sampai sekarang.

Komentar

Postingan Populer