Why I avoid the topic of Married
The talk of married is getting often to hear as older I get. However, I truly afraid of it, so I often avoid it with another topic. I am afraid, I'm truly am. Here is the reason why...
My family is one of broken family among many (I know every family has their own problem, but mine is beyond that, we practically are not family, we are strangers that live together with minimum communication). Yes, bukan broken home, tapi broken family. When I think about it, broken home is still better than broken family. Broken home is you appear to be okay in the outside, but inside is not. Kepura-puraan yang tidak akan berhenti and it always makes me suffocating. Being home is like a hell, so moving out when I was about to go to college is a smart choice. I feel happy when I finally go out from my house. Enggak seperti orang lain yang merasa sedih saat akan merantau, I feel nothing. Bahkan orang tuaku pun enggak mengantarku untuk pergi merantau seperti kebanyakan keluarga.
Itu dia yang menjadi salah satu alasan why I always avoid the topic of marriage. Aku enggak mau ended up like bapak dan Ibu yang sama-sama menyesal sudah menikahi satu sama lain. Ibu yang seorang lulusan sarjana muda universitas ternama di Jogjakarta menikah dengan ayah yang seorang pengangguran kala itu, yang masih dibiayai oleh kakek nenek. Ibu menyesal menikahi ayah yang pemalas dan tidak punya pekerjaan dan karena tingkat pendidikan ibu yang lebih tinggi dari ayah, Ibu sering merendahkan ayah.
Begitupula dengan ayah. Ayah juga menyesal sudah menikahi ibu yang gampang mengeluh, tidak bersyukur dan selalu mencari orang yang bisa disalahkan atas suatu keadaan. Masa kecilku tidak menyenangkan, bahkan tidak ada yang bisa kujadikan kenangan darinya. Kadang pula aku iri melihat anak-anak yang akrab dengan kedua orang tuanya. Sedang aku dan adik-adikku hanya sering dijadikan sasaran emosi mama baik fisik dan mental. Ya, Ibu yang tidak terima dengan keadaan bapak dan mertua (kami tinggal seatap dengan kakek nenek - ini juga alasan aku tidak ingin serumah dengan mertua apapun yang terjadi) dan juga bapak yang frustasi dengan sifat ibu seringkali menjadikan kami (anak-anaknya) sebagai sasaran emosi, dimana jika kami salah sedikit, kami langsung dimarahi, dicubit, sedangkan bapak biasanya menghukum kami jika kami bertengkar atau merengek dengan cara diguyur habis-habisan di kamar mandi atau melempar barang seperti yang sering dilakukan kakek (Yup it's like a circle, Bapak has been through that kind of childhood by Kakek and now he did the same with us - because he learn that kind of parenting style from Kakek). Ibu juga tidak pernah mengajari kami atau menanyakan bagaimana sekolah kami, bahkan saat adik laki-laki ku ternyata di bully di sekolah, Ibu malah memarahi adik dan lalu memindahkannya. Maka dari itu hubungan ibu dan aku serta dengan adik-adik tidak dekat, bahkan adikku yang paling kecil tidak pernah berkomunikasi lagi dengan ibu dan bapak saking bencinya dia dengan ibu dan bapak. Tidak pernah meminta uang juga kecuali bila bapak atau ibu berikan, jika ada surat dari sekolah juga hanya diletakkan di atas menja agar bapak/ibu baca. Kadang masih mau menjawab kalau ditanya tapi other than that he never speak anything or ask anything. Even when his shoes is already not in the good condition, he never ask to buy one. However, He becomes better nowadays.
Bagaimana dengan aku? Aku enggak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya ke bapak ibu, dibandingkan benci atau sayang, mungkin takut dan hormat terdengar lebih masuk akal. Aku pikir ibu seperti itu juga tidak lepas dari didikan Nenek, yang seperti ibu juga, dan aku takut jika nantinya aku memiliki anak aku akan berakhir seperti Ibu dan Nenek. Aku juga takut nantinya aku memiliki suami yang seperti bapak, karena aku tidak ingin punya suami seperti bapak yang selalu menghina istrinya, memaki-maki makanan yang sudah dibuat susah payah oleh Ibu, yang mungkin akhirnya karena itu semua Ibu melampiaskan stress nya pada kami.
Aku tidak mau sampai berakhir seperti mereka (Ibu dan Bapak). Dari Ibu setidaknya aku belajar supaya aku tidak sepertinya, melampiaskan stress dan mengacuhkan anak-anak, bahkan saat sakit kami tidak pernah dirawatnya. Nenek atau sering kali kupanggil umi, ibu dari bapak yang lekang di ingatanku saat aku kecil. Aku lebih sering bermain dan bersama dengan nenek ketimbang dengan ibu. Disaat kami sakit juga nenek yang merawat, bukan ibu. Mungkin aku akan lebih sedih saat ditinggal nenek dibanding ibu. Dari Ibu aku belajar untuk tidak langsung memarahi anak dan mencari duduk perkaranya terlebih dahulu sebelum memarahi, dari Ibu juga aku belajar saat kecil kalau dicubit itu sakit dan aku tidak akan melakukannya pada anakku nanti. Tetapi.. aku takut. Aku masih takut circle yang sama dari Ibu dan Nenek terjadi padaku saat menikah nanti.
Pergi dari rumah melatih aku untuk lebih bisa menghandle emosi ketimbang berada di rumah - menjauhi trigger, aku tahu itu tidak akan mengubah apapun, menjauhi masalah bukan menyelesaikannya tidak akan mengubah apapun - but it is so hard when the toxic people you have is your own family, the one that drive you to be crazy is your own family, it is really hard to overcome that. Karena itulah aku memutuskan untuk belajar studi di luar negeri karena aku merasa kembali ke diriku yang lama saat aku terjebak tinggal di rumah kembali. Mungkin karena itu juga, adikku yang pertama yang baru lulus tidak mau mencari kerja di jakarta dan sekarang bekerja di Dumai, Riau, jauh dari rumah. Dibujuk berkali-kalipun untuk mencari pekerjaan di Jakarta dia tidak mau. Guess what? Di rumah sekarang sudah tidak ada anak-anak dari bapak ibu. Aku di Hungaria, Adik pertamaku di Dumai, Riau, Adik keduaku di Tangsel, dan adik terakhirku di Bandung. Mungkin benar pepatah yang bilang jika kamu tidak meluangkan waktu untuk anak anakmu maka mereka tidak akan meluangkan waktu untukmu. Aku benar benar sadar bahwa masa kecil adalah masa emas untuk perkembangan ikatan antara anak dan ibunya. Karena pengalaman pahit itulah, aku tidak mau meninggalkan pengasuhan anakku pada siapapun, dan belajar dari jauh-jauh hari tentang parenting. Even my mom is at home but I didn't feel that she is home.
Pergi dari rumah melatih aku untuk lebih bisa menghandle emosi ketimbang berada di rumah - menjauhi trigger, aku tahu itu tidak akan mengubah apapun, menjauhi masalah bukan menyelesaikannya tidak akan mengubah apapun - but it is so hard when the toxic people you have is your own family, the one that drive you to be crazy is your own family, it is really hard to overcome that. Karena itulah aku memutuskan untuk belajar studi di luar negeri karena aku merasa kembali ke diriku yang lama saat aku terjebak tinggal di rumah kembali. Mungkin karena itu juga, adikku yang pertama yang baru lulus tidak mau mencari kerja di jakarta dan sekarang bekerja di Dumai, Riau, jauh dari rumah. Dibujuk berkali-kalipun untuk mencari pekerjaan di Jakarta dia tidak mau. Guess what? Di rumah sekarang sudah tidak ada anak-anak dari bapak ibu. Aku di Hungaria, Adik pertamaku di Dumai, Riau, Adik keduaku di Tangsel, dan adik terakhirku di Bandung. Mungkin benar pepatah yang bilang jika kamu tidak meluangkan waktu untuk anak anakmu maka mereka tidak akan meluangkan waktu untukmu. Aku benar benar sadar bahwa masa kecil adalah masa emas untuk perkembangan ikatan antara anak dan ibunya. Karena pengalaman pahit itulah, aku tidak mau meninggalkan pengasuhan anakku pada siapapun, dan belajar dari jauh-jauh hari tentang parenting. Even my mom is at home but I didn't feel that she is home.
Sebesar apapun rasa takutku akan marriage, aku tetap ingin untuk menikah suatu saat nanti (disaat aku sudah cukup dewasa) dan memiliki anak-anak yang lucu. Aku juga ingin suatu saat nanti membangun keluarga dengan orang yang bisa menerima aku apa adanya. Menerima segala kekuranganku juga segala kerumitan dalam keluargaku. Aku ingin calon ku nantinya mengerti akan keluargaku yang tidak seperti keluarga pada umumnya. Aku ingin despite all of those, he still love me and willing to create another story of life with me. Later, in the future.
I envy those who have a happy family and dream to have one. I envy those who have an attentive mother and dream to be one. I don't know for sure where the other half from Allah will show up, but if he show up I will make sure that he know this first, so he won't regret meeting me and my family state.
Komentar
Posting Komentar