3S sebagai panduan untuk memilih pasangan
Halo halo halo :) Assalamu'alaykum. Lama ya tidak menulis di blog. Sebenernya masih menulis tapi sekarang ini lebih memilih untuk menulis di journal dengan menggunakan tulisan tangan. It helps to relieve the stress ;)
Kali ini mau sedikit share informasi yang didapat dari sebuah tontonan, tentang 3S sebagai parameter untuk memilih pasangan (Sepadan, Searah, Senang). Semoga bermanfaat!
1. Sepadan
Kalau dalam islam ada istilah sekufu, yang artinya kurang lebih ya sepadan, selaras dan menurut banyak ulama pernikahan akan terasa lebih mudah jika unsur sekufu ini terpenuhi. Sepadan bukan berarti sepadan dalam level status, pendidikan, suku, karier, tradisi keluarga, keuangan atau harta kekayaan, walaupun unsur-unsur tersebut juga harus dipertimbangkan. Yang dimaksud sepadan disini adalah sepadan dalam pola pikir sehingga bisa menjadi teman diskusi yang baik. Analoginya begini, kamu satu perjalanan dengan seseorang yang tidak nyambung diajak bicara sehari semalam saja tidak menyenangkan rasanya, ini apalagi kaitannya dengan pernikahan yang literally seumur hidup. Teman diskusi sepanjang waktu, teman ngobrol setiap hari, apa jadinya kalau pola pikirnya tidak dalam satu tingkatan yang sama?
Seseorang yang bisa mengerti pada segala jokes receh kita, atau menertawai hal yang sama dalam kehidupan. Sepadan bukan hanya dalam pola pikir, tapi sepadan dalam memahami berbagai hal dalam kehidupan, bisa tertawa bersama, menikmati sesuatu hal bersama, dan lainnya. Bukan berarti harus setuju dalam berbagai hal atau harus mengetahui segala topik, bukan. Ini hanya masalah apakah bisa menyesuaikan diri dengan pasangan saat berdiskusi dan mengobrol serta bagaimana bisa menikmati hal-hal bersama. Sepadan bukan berarti harus sama dalam berbagai hal.
Bukan berarti pula harus memiliki tingkat pendidikan yang sesuai, karena ada saja manusia-manusia berpendidikan tinggi yang terlalu abai dengan sisi humanitas sehingga hanya bisa diajak mengobrol atau diskusi topik-topik yang mereka kuasai saja, yah topik-topik ilmiah, bukan topik-topik yang dekat dengan keseharian, jadinya yah bosan bersama. Walaupun memang tidak bisa ditampik, kadang profesi atau jenjang pendidikan yang sepadan akan membuat diskusi lebih mudah mengalir sehingga lebih mudah untuk mengerti satu sama lain, mungkin karena itu juga banyak dokter yang memilih menikah dengan yang se-profesi atau setidaknya sama-sama berkecimpung di dunia kesehatan sehingga mengerti jikalau mereka harus pulang pagi jika ada shift malam ataupun saat mereka harus banyak menghabiskan waktu di bangsal rumah sakit.
Seseorang yang bisa mengerti pada segala jokes receh kita, atau menertawai hal yang sama dalam kehidupan. Sepadan bukan hanya dalam pola pikir, tapi sepadan dalam memahami berbagai hal dalam kehidupan, bisa tertawa bersama, menikmati sesuatu hal bersama, dan lainnya. Bukan berarti harus setuju dalam berbagai hal atau harus mengetahui segala topik, bukan. Ini hanya masalah apakah bisa menyesuaikan diri dengan pasangan saat berdiskusi dan mengobrol serta bagaimana bisa menikmati hal-hal bersama. Sepadan bukan berarti harus sama dalam berbagai hal.
Bukan berarti pula harus memiliki tingkat pendidikan yang sesuai, karena ada saja manusia-manusia berpendidikan tinggi yang terlalu abai dengan sisi humanitas sehingga hanya bisa diajak mengobrol atau diskusi topik-topik yang mereka kuasai saja, yah topik-topik ilmiah, bukan topik-topik yang dekat dengan keseharian, jadinya yah bosan bersama. Walaupun memang tidak bisa ditampik, kadang profesi atau jenjang pendidikan yang sepadan akan membuat diskusi lebih mudah mengalir sehingga lebih mudah untuk mengerti satu sama lain, mungkin karena itu juga banyak dokter yang memilih menikah dengan yang se-profesi atau setidaknya sama-sama berkecimpung di dunia kesehatan sehingga mengerti jikalau mereka harus pulang pagi jika ada shift malam ataupun saat mereka harus banyak menghabiskan waktu di bangsal rumah sakit.
2. Searah
Mempunyai bisi dan misi yang sama dalam membangun rumah tangga. Ini menjadi salah satu momok pertimbangan yang benar-benar harus dijelaskan sebelum melangkah lebih jauh, karena keluarga hanya bisa dibangun jika memiliki visi misi yang sama, dirumuskan bersama dan dijalankan bersama sebagai pasangan. Misal membangun keluarga yang bisa memberikan sumbangsih pada penyebaran agama, atau mendidik generasi yang memiliki iman dan taqwa yang baik, memiliki banyak anak asuh, membantu banyak anak yang kurang beruntung, menghindarkan keluarga dari segala jenis riba dan sebagainya. Disini kamu juga bisa melihat bagaimana nilai-nilai dan prinsip kehidupan yang dia pegang selama hidup, seperti mungkin anti KKN, anti riba dan sebagainya, dan melihat bagaimana perencanaan kehidupan dia.
3. Senang (menyenangkan)
Ini yang terakhir, sepadan dan searah tetapi tidak menyenangkan juga akan memiliki masalah kedepannya. Bukan menyenangkan dipandang mata walaupun ini juga termasuk penting. Fisik bukanlah hal yang utama karena fisik akan berubah seiring bertambahnya umur, tetapi karakter atau kepribadian, kebiasaan (habit), tingkah laku dan nila-nilai integritas yang dia pegang tidak akan berubah. Lihat pada empat hal itu. Pilihlah seseorang yang menyenangkan selain nyambung diajak ngobrol, tidak suka kan jika seseorang sering komplain dan mengeluhkan hal yang sama over and over again? Pilihlah seseorang yang ramah bukan seseorang yang mudah marah, lihat bagaimana dia mengontrol dirinya saat marah, apakah dia bisa menguasai dirinya atau justru amarah yang mengambil alih dirinya.
Pilihlah seseorang yang mudah tersenyum bukan seseorang yang mudah murung, walaupun tidak masalah jika sesekali sedih kecewa dan hal-hal negatif lainnya diekspresikan karena manusia tidak mungkin senang dan bahagia selalu, tetapi lihat bagaimana aksi dan coping-nya dalam hal itu dan lihat apakah dia berlarut-larut atau tidak. Pilihlah seseorang yang mudah melihat sisi positif ketimbang negatif, tidak harus selalu positif, tetapi setidaknya dia bisa membantu kita melihat jalan keluar disaat kita dalam masalah, bisa melihat secercah cahaya dalam kegelapan.
Pilihlah seseorang yang selalu berusaha untuk hidup di masa kini dan melihat di masa depan dibandingkan seseorang yang selalu melihat dan hidup di masa lalu, menyesal boleh, berlarut-larut dalam masa lalu yang tidak bisa diubah yang tidak boleh. Mengutip dari perkataan seorang teman, "leher manusia saja dibatasi untuk melihat ke belakang". Apa artinya? menengok ke belakang sesekali tentu saja tidak apa-apa, tetapi tidak serta merta selalu menengok ke belakang. Masa lalu ada untuk dikenang dan dipetik hikmahnya agar kedepannya tidak mengulang kesalahan yang sama. Yang sudah terjadi ya sudah biarkan saja terjadi. Toh, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Hidup sudah berat dan memilih pasangan yang setidaknya menyenangkan akan membantu kita dalam menjalani kehidupan yang berat ini. Menyenangkan bukan dalam arti enak dipandang, tetapi menyenangkan dalam arti tingkah lalu dan tutur katanya menyenangkan.
---
Pilihlah seseorang yang mudah tersenyum bukan seseorang yang mudah murung, walaupun tidak masalah jika sesekali sedih kecewa dan hal-hal negatif lainnya diekspresikan karena manusia tidak mungkin senang dan bahagia selalu, tetapi lihat bagaimana aksi dan coping-nya dalam hal itu dan lihat apakah dia berlarut-larut atau tidak. Pilihlah seseorang yang mudah melihat sisi positif ketimbang negatif, tidak harus selalu positif, tetapi setidaknya dia bisa membantu kita melihat jalan keluar disaat kita dalam masalah, bisa melihat secercah cahaya dalam kegelapan.
Pilihlah seseorang yang selalu berusaha untuk hidup di masa kini dan melihat di masa depan dibandingkan seseorang yang selalu melihat dan hidup di masa lalu, menyesal boleh, berlarut-larut dalam masa lalu yang tidak bisa diubah yang tidak boleh. Mengutip dari perkataan seorang teman, "leher manusia saja dibatasi untuk melihat ke belakang". Apa artinya? menengok ke belakang sesekali tentu saja tidak apa-apa, tetapi tidak serta merta selalu menengok ke belakang. Masa lalu ada untuk dikenang dan dipetik hikmahnya agar kedepannya tidak mengulang kesalahan yang sama. Yang sudah terjadi ya sudah biarkan saja terjadi. Toh, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Hidup sudah berat dan memilih pasangan yang setidaknya menyenangkan akan membantu kita dalam menjalani kehidupan yang berat ini. Menyenangkan bukan dalam arti enak dipandang, tetapi menyenangkan dalam arti tingkah lalu dan tutur katanya menyenangkan.
---
Fisik akan selalu berubah, tetapi habit dan integritas tidak, pun prinsip-prinsip kehidupan dan karakter. Jadi penting untuk melihat kebiasaannya, prinsip-prinsip kehidupannya dan caranya memperlakukan seseorang. Uang dan harta benda, walaupun juga krusial, tetapi itu bisa dicari bersama. Dengan pribadi yang rajin dan bertanggung jawab, hal tersebut bisa dengan mudah didapatkan, insya Allah.
"Ah nanti bisa berubah kok setelah menikah"
Jangan berpikir begitu karena kepribadian dan karakter adalah hal yang sulit diubah jika bukan dari orangnya yang benar-benar memiliki niat tersebut. Jangan menikah dengan niat memperbaiki seseorang, tetapi menikah lah karena memang dengan bersamanya kamu bisa menjalani kehidupan dengan lebih menyenangkan, menerima dirinya dengan apa adanya.
Dan jangan lupa mengasah diri menjadi pribadi yang seperti kita inginkan hadir di pasangan kita nantinya, karena katanya pasangan atau jodoh adalah cerminan diri kita sendiri. Ada sebuah analogi tentang taman bunga dan kupu-kupu. Menangkap kupu-kupu itu sulit, tetapi ada cara yang lebih mudah, bangunlah sebuah taman bunga dan rawatlah bunga-bunga didalamnya dengan baik, telaten dan penuh kasih sayang sehingga dengan sendirinya kupu-kupu akan datang dan hinggap disana. Kurang lebih ini seperti membangun dan merawat karakter diri kita serta mengasah skill kehidupan kita sehingga orang yang kita inginkan datang akan menghampiri dengan sendirinya.
Hidup sudah berat, jangan sampai kalian salah memilih pasangan yang akan hidup bersama kalian dengan jangka waktu yang amat panjang, yaitu seumur hidup. Jangan sampai menggampangkan kriteria juga hanya karena merasa diburu-buru waktu. Tenang semua ada masanya, semua ada timeline-nya. Semua akan bertemu jodoh pada saatnya masing-masing. Bukan tepat waktu, tapi tepat pada waktunya. Lagipula tidak pernah ada deadline untuk hal itu, jadi tidak ada menikah tepat waktu, karena semua akan menikah pada waktunya, yang tentu saja berbeda-beda pada setiap orang.
Eits tapi.. ingat perencanaan dalam kehidupan itu perlu, dan pernikahan adalah bagian penting yang tidak terpisahkan darinya. Ikhtiar atau usaha juga harus dilakukan, bukan hanya pasrah menunggu jodoh turun dari langit. Walaupun memang jodoh yah datangnya dari langit, karena itu semua sudah tertulis di Lauhum Mahfudz, dan sebagai muslim yang baik kita harus percaya bahwa semuanya sudah diciptakan berpasang-pasangan, tapi itu bukan berarti kita bermalas-malasan saja dan menunggu si jodoh datang bertamu, nantinya jika yang datang tidak akan sesuai kriteria karena kita hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa saja bagaimana? Masak mau protes?
Komentar
Posting Komentar