Menyakini Al-Qur'an benar-benar diturunkan oleh Allah SWT

Suatu hari ditanya seorang teman tentang ini, begini awal pertanyaannya : "Bagaimana kita bisa yakin bahwa Al-Qur'an hari ini benar-benar dari Allah, dan tidak ada ketercampuran manusia didalamnya?"

Karena kita tahu sendiri bahwa Al-Injil yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa AS (yang umat kristiani menyebutnya sebagai Yesus), diselewengkan oleh para pengikutnya setelah beliau wafat dan menjadikannya tidak murni lagi, seperti itu kurang lebih yang tertulis di Al-Qur'an, tapi kita tidak akan membahas ini karena ini adalah ranah umat kristiani yang tentu saja akan percaya bahwa kitab mereka memang benar adalah perkataan Allah, dan sebagai muslim yang baik yang seharusnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia mengatakan tentang hal ini di hadapan teman yang beragama kristiani adalah suatu hal yang tidak beretika, karena bisa saja kita akan dianggap menghina kitab dan agama mereka walaupun maksud kita bukanlah seperti itu.

Lagi-lagi agama adalah isu yang sensitif untuk dibahas, jadi tolong lebih berhati-hati. Bagi kita umat islam, kitab kita adalah Al-Qur'an yang Allah sudah jamin keasliannya sepanjang zaman, namun kita tetap harus mempercayai kitab-kitab lainnya, seperti taurat, injil dan zabur. Hanya saja kitab-kitab itu berlaku untuk kaum yang menjadi sasaran dakwah para nabi di masa itu, seperti Nabi Musa AS, Daud AS dan Isa AS yang diturunkan kepada bani israil pada zamannya, sehingga berdasarkan Al-Qur'an, kitab-kitab tersebut hanya diperuntukkan untuk kaum di masa itu. Namun adanya kitab tersebut nyata karena tertulis dalam Al-Qur'an, seperti pada QS Al-Baqarah : 87, “..Dan Sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qu8dus.. (QS Al-Baqarah :87)

Nah kembali ke pertanyaan, bagaimana bisa yakin bahwa Al-Qur'an adalah dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril?

Pertama, kita sebagai umat muslim tahu benar bahwa Nabi Muhammad adalah pribadi yang dikatakan dalam al-qur'an, "ummi" yang berarti tidak mengenal huruf dan tidak bisa membaca, seperti apa yang diucapkan Rasulullah pada saat turunnya wahyu pertama di gua hira, QS Al Alaq ayat 1-5. Saat Malaikat Jibril meminta Rasullullah untuk membaca dan dijawab oleh beliau bahwa beliau tidak bisa membaca, dan hal itu berulang hingga 3x. Sehingga rasanya tidak mungkin Rasulullah menambah-nambahkan atau mengurangi isi yang ada di dalam Al-Qur'an. Namun perlu diingat walaupun Nabi Muhammad adalah seorang yang buta aksara, tetapi bukan berarti beliau bukan seseorang yang intelek. Menghafal ayat-ayat Qur'an bukanlah hal yang mudah dan Rasulullah juga dikenal sebagai seorang yang pandai (Fathonah) di kaum Quraisy.

Kedua, pribadi Rasulullah yang jujur (Shiddiq) dan dapat dipercaya (Al Amanah) sedari beliau kecil, bahkan sebelum beliau diangkat nabi membuktikan kredibilitas Rasulullah sebagai penyampai kebenaran yang valid. Bahkan pada saat adanya konflik peletakan batu hitam (Hajar Aswad) antar para pemuka kaum quraisy saat renovasi ka'bah dilakukan, Rasulullah ditunjuk menjadi penengah dan pemberi keputusan (saat itu beliau masih muda dan belum diangkat menjadi nabi) dimana Rasulullah akhirnya memutuskan untuk menghamparkan kain diatas Hajar Aswad dan meminta para pemuka Quraisy bersama-sama memegang kainnya ke tempat batu akan diletakkan. Sebuah keputusan yang cukup adil dan bijak. Rasulullah juga seringkali dipercayakan barang dagangan dan terkenal jujur saat berdagang. Hal itu pula yang menarik Khadijah RA sehingga berkeinginan untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai suaminya. 

Pribadi Rasul yang seperti itu pula yang menjadikan Abu Bakar As-Shiddiq, sahabat Rasul langsung serta merta memeluk agama islam saat pertama kali mendengarnya dari Rasulullah tanpa meragukan kebenerannya sama sekali, karena Abu Bakar yakin dengan pribadi Rasul yang penuh kejujuran. Sehingga apa-apa yang disampaikan rasul, Abu Bakar selalu percaya akan kebenarannya. Bahkan Abu Jahal yang notabene adalah musuh Islam dan juga musuh Nabi mengakui kejujuran Nabi Muhammad SAW, Abu Jahal pernah berkata bahwa dia tidak pernah menemui seseorang yang jujur dan amanahnya seperti Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, benar nyatanya jika mushaf dibukukan di zaman Utsman bin Affan, mungkin ini sebabnya ada yang menyebut Al-Qur'an dengan mushaf utsmani yang identik dengan al-Qur'an yang kita punya sekarang, tetapi tentu saja sahabat nabi adalah orang-orang yang bisa dipercaya kredibilitasnya, dan ide pembukuan sendiri pun sudah ada dari zaman Abu Bakar As-Shiddiq, dimana alasan dibukukan adalah karena banyaknya penghafal al-qur'an (Hafidz) yang gugur di medan perang sehingga dikhawatirkan Firman Allah dari Al-Qur'an bisa saja akan hilang atau diragukan keasliannya, oleh karena itulah ide dibukukannya Al-Qur'an disampaikan. Pembukuan kitab pertama kali dilakukan di Zaman Abu Bakar As-Shiddiq dan penggandaannya serta penyebarannya ke seluruh dunia dilakukan di zaman Utsman bin Affan. Keduanya adalah sahabat nabi yang terutama yang termasuk dalam As-Sabiqunal Awwalun. Memang pembukuan ini sendiri dilakukan setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, tetapi bukan berarti ada campur tangan atau kepentingan didalam pembukuannya. Sahabat Rasul adalah orang-orang yang bisa dipercaya, terutama para amirul mukminin dengan sebutan khalafaurrasyidin dimana belum ada unsur politisasi seperti pemerintahan zaman sekarang. Dimana para amirul mukminun memerintah tidak atas dasar keinginan sendiri, tetapi dipilih secara musyawarah dan mufakat. Pun tidak atas ketertarikan nafsu duniawi seperti jabatan ataupun kekayaan tapi demi kemaslahatan bersama. Mereka tidak akan mencari keuntungan atas kepentingan mereka sendiri dengan dibukukannya Al-Qur'an.

“Muhammad itu adalah utusan Alloh, dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka: Kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Alloh dengan mereka hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir.” (QS. Al Fath: 29)

Namun kembali lagi, bahwa agama adalah hal yang abstrak dan soal kepercayaan dimulai dari percaya pada hal-hal yang memang kasat mata. Lagi-lagi Allah memberikan hidayah tidak untuk semua orang, dan proses mendapatkan hidayah pun bukan hanya dengan berdiam diri, tetapi mencari kebenaran dan menjemput hidayah. Alasan-alasan diatas akan tetap dianggap tidak masuk akal bagi orang-orang yang tidak ingin percaya, yang belum Allah bukakan pintu hidayah, sebaliknya tanpa alasan-alasan diatas pun, orang-orang yang diberikan Allah hidayah akan tetap percaya.

Sekali lagi mempertanyakan hal-hal dalam agama dan kepercayaan adalah suatu hal yang masuk akal dan wajar karena memang insting kita sebagai manusia adalah untuk mencari kebenaran, tetapi jika sudah meragukan, mungkin itu sudah termasuk bisikan iblis untuk menjerumuskan kita. Mencari jawaban dari pertanyaan adalah hal yang masuk akal dan seharusnya jawaban yang kita dapatkan akan memperkuat keimanan kita, kalau sebaliknya, cepat-cepatlah memohon ampun dengan mengucap istighfar dan coba kembali bertanya baik-baik pada hati, sudah sejauh mana iblis menyusup kedalam hati?

Wallahu'alam bis showab.

Komentar

  1. luvvv! sebagai tambahan (efek nntn NAK). Ketika Allah menurunkan Surat Yusuf (Q.S 12:2) itu adalah saat di Mekah (surat makkiyah) yang menceritakan ttg kisah Nabi Yusuf (yg sebelumnya juga ada di Taurat dengan bahasa Ibrani /Hebrew). Kaum Quraisy yg memahami Taurat tentu paham bahwa kisah nabi Yusuf ada dalam kitabnya, namun ketika diturunkan dan dibacakan oleh Rasulullah, beliau membacakannya dalam bahasa arab. Padahal kisah Nabi Yusuf ada jauh sebelum Rasulullah lahir, bagaimana Rasulullah bisa mengetahui kisah Nabi Yusuf? terlebih lagi surat itu diturunkan dalam bahasa arab (agar orang2 paham). Oleh karena itu, inilah salah satu hal yang memperkuat bahwa Alquran diturunkan oleh Allah SWT. Wallahualam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mimiin, luv jugaaa :) semoga kita selalu diberikan hidayah oleh-Nya ya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer