The Experience of Flying Back during Pandemic

Halo! Long time no see!

Per 5 Juli 2020 kemarin alhamdulillah saya sudah lulus kuliah dan mendapatkan ijazah dari gelar magister, tentu saja setelahnya banyak yang harus dilakukan untuk plan-plan selanjutnya, yang paling dekat adalah plan kepulangan, karena saya hanya bisa tinggal sampai akhir Juli berdasarkan residence permit. Karena corona, ada banyak keterbatasan terkait hal ini, jumlah penerbangan terbatas, maskapai juga terbatas dan pembatalan dari pihak maskapai sangat mungkin terjadi. Belum apa-apa harus serba membuat janji secara online dulu, hal ini menjadi suatu masalah dalam proses legalisasi  ke institusi pemerintahan semacam DIKTI dan Kemenlu di Hungaria, karena ada beberapa orang yang tidak bisa mendapatkan janji booking sebelum tanggal 31 Juli sehingga via post menjadi alternatif lain yang tentunya membutuhkan biaya lebih. Mengapa legalisasi diperlukan? Karena jika tidak dilakukan, Ijazah tidak akan bisa digunakan di negara selain negara Uni Eropa. Jika ingin menggunakan Ijazah di negara lain harus melakukan legalisasi ke kementerian terkait. Beberapa negara cukup sampai pada tahap kementerian di Hungary seperti pada Kazakhtan, dan Kirgystan, tetapi untuk Indonesia sendiri harus melakukan sampai pada peresmian oleh perwakilan Indonesia di negara itu, yang adalah KBRI.

Alhamdulillah, saya sudah booking dari jauh-jauh hari, jadi masalah proses legalisasi untuk digunakan di negara sendiri aman, dan sudah selesai semenjak tanggal 1 Juli. Walaupun memerlukan biaya yang tidak sedikit juga, kurang lebih sekitar 11000 HUF yang berarti sekitar 35 Euro. Nah sebenarnya saya sudah memesan tiket Turkish di tanggal 16 Juli, namun terjadi masalah pembatalan karena mereka hanya beroperasi dari Budapest di hari Senin dan Jumat, karena itulah saya pindah ke tanggal 20 Juli, namun kemudian terjadi perubahan kembali 5 hari sebelum kepulangan, yang akhirnya membuat saya memilih mengganti maskapai menjadi Qatar karena ketidakpastian Turkish. Karena saya menggunakan STA Travel Agent, saya bisa mengganti maskapai tanpa perlu refund, hanya perlu menambah biaya untuk perbedaan harga.

Jadilah saya terbang dengan Qatar. Penerbangan dari Budapest ke Doha aman dengan seling tiap bangku, Qatar juga memberikan face shield, masker, tisu basah steril sampai gloves, benar-benar memang pantas menyandang nama sebagai the best airlines in the world. Nah tapi perjalanan dari Doha ke Jakarta amatlah ramai, tidak ada seling antar kursi, ada 150 TKW dari suriah yang pergi berangkat bersama KBRI, dipulangkan ke Indonesia karena stuck di Suriah akibat adanya PHK dan lain-lain. Katanya ada yang sudah 5 bulan di shelter yang di provide oleh KBRI. Itupun belum semuanya pulang karena katanya ada yang sakit sehingga di tinggal. Katanya mereka diberikan 3 bus dari Damaskus, Suriah ke Beirut, Lebanon karena tidak boleh adanya penerbangan dari Suriah akibat corona. TKW-TKW yang tertampung di shelter pun macam-macam kasusnya, mulai dari habis kontrak dan tidak bisa pulang karena border ditutup, pemutusan kerja sepihak karena resisi ekonomi, sampai ada yang kabur karena gaji tidak dibayar-bayarkan juga. Begitulah kerasnya kehidupan yang berbeda-beda di tiap individu. Kita yang masih punya pekerjaan dan bisa tidur dan makan dengan cukup haruslah bersyukur.

Begitu turun di bandara juga cukup ramai, tetapi petugas bandara langsung mengarahkan kelompok dari Damaskus untuk dipisahkan dari kami, karena mereka tidak memiliki hasil swab test negatif dan sudah pasti akan dikarantina. Setelah itu line antrian juga dipisahkan antara PCR dan NON-PCR, sehingga mempermudah kami yang memilih hasil test PCR negatif, pemeriksaan berjalan lancar dan cepat tanpa banyak kendala, mereka hanya melakukan pemeriksaan suhu tanpa adanya rapid test, mungkin karena kami sudah memiliki sertifikat bebas Covid-19.

Begitu keluar di Lobby bawah kedatangan dari luar negeri, biasanya bandara cukup ramai dengan para penjemput atau para travel agent for bus, shuttle dan lain-lain, namun kali ini tak ramai orang. Stall pedagang dan travel agent tetaplah ada namun tidak ramai. Bandara yang biasanya terlihat sibuk dengan orang-orang yang datang dan pergi menjadi sunyi sepi. Begitulah hidup tidak ada yang pernah bisa memprediksi apapun di masa depan, siapa sangka Bandara sebesar Soekarno Hatta akan sesepi itu.

Begitujuga perjalanan pulang kerumah, sangat lancar dan sepi, mungkin juga dipengaruhi dengan tipe jalan yang kami lalui adalah jalan tol dan hari itu adalah hari sabtu dimana orang-orang tidak ada yang perlu keluar untuk bekerja, kecuali mungkin beberapa orang seperti Gojek atau Grab Driver, Kurir, dan pengawai rumah sakit yang harus kerja tak tentu waktu sekarang. Terimakasih orang-orang yang tetap bekerja untuk mempermudah hidup kami selama pandemi ini!

Sekarang sudah seminggu di rumah, adanya peraturan karantina mandiri 14 hari untuk berjaga-jaga adanya chance terpapar selama di pesawat membuat saya di rumah saja, dan alhamdulillah seminggu ini baik-baik saja, begitujuga keluarga. Walaupun karantina di rumah tapi saya kemana-mana, ke dapur untuk memasak, ke belakang untuk mencuci, ke seluruh sudut rumah untuk menyapu mengepel, sampai ke depan pagar terima paket jadi cukup khawatir juga, walau keluarga berkata akan baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Semoga kami akan tetap baik-baik saja dan semoga kalian yang membaca juga.

Komentar

Postingan Populer