Negeriku, Negeri Wacana


            Masyarakat Indonesia rasa-rasanya sudah terlalu teoritis. Sehingga yang ditinjau lebih lanjut selalu regulasi, kebijakan, peraturan dan semacamnya tanpa adanya tindakan tepat guna yang nyata untuk menyelesaikan masalah. Demonstrasi besar-besaran, Aksi dan sebagainya untuk memprotes segala kebijakan yang dirasa merugikan rakyat, Namun setelahnya demonstrasi selesai, bubar saja tanpa ada pengawalan lebih lanjut. Bukan maksud menyalahkan demonstrasi atau aksi yang dilakukan sekelompok mahasiswa, tapi seringkali aksi tersebut hanya merugikan pihak masyarakat, seperti jalanan menjadi macet, banyaknya sampah berserakan, dan sebagainya. Rasanya bukan zamannya aksi berteriak-teriak untuk menyuarakan suara rakyat (katanya) seperti zaman orde baru tahun 1998, Namun aksi nyata yang mendorong perubahan, seperti go tumblr, go green, pemberian tempat sampah di desa-desa, dan sebagainya.
            Diskusi dan diskusi. Rapat dan rapat membahas kebijakan tanpa turun ke lapangan untuk menganalisa masalah dan mencari solusi aktifnya. Adapun jika turun ke lapangan hanya sekedar pencitraan untuk media massa. Wacana demi wacana terus saja digulirkan. Kereta cepat? Wacana, Monorel selesai tahun 2016? Wacana, Pendidikan dan kesehatan Gratis tetapi mutu bagus? Wacana. Rasanya sudah terlalu banyak wacana di negeri ini. Bukan hanya pemerintahnya yang sekedar wacana, tapi juga rakyatnya. Dimana-mana yang dibahas adalah busuknya pemerintahan saat ini, betapa bonekanya pemerintahan saat ini, mengeluh dan mengeluh, tanpa melihat sudah sejauh mana hal yang diri sendiri lakukan. Contohnya, berbicara soal banjir, masyarakat hanya mengutuk pemerintah karena membiarkan peristiwa menahun ini terus terjadi, padahal penyebabnya ya masyarakat juga. Masyarakat yang membuang sampah sembarangan, yang dengan seenaknya membangun rumah di bantaran kali. Atau contoh lain, macet. Siapa sih yang sebenarnya membuat macet? Pemerintah? Walalupun memang infrastruktur dan transportasi yang dibangun pemerintah belum memadai, tapi banyaknya warga yang enggan menggunakan transportasi umum dan lebih memilih menggunakan roda empat juga menjadi alasannya.
            Dimana-mana yang dibahas adalah perubahan, rusaknya lingkungan, keadaan bumi 100 tahun mendatang yang sudah tidak layak ditinggali jika terus begini, namun tidak ada yang berniat mengubahnya. Jika pun ada, mereka adalah orang-orang tanpa support finansial. Miris rasanya. Mengingatkan pada sebuah meme, dimana seseorang di Podium bertanya “who wants change?”, dan semuanya serempak  mengangkat tangan. Tetapi saat ditanya kembali, “Who wants to change?”, semuanya serempak menurunkan tangan dan menundukkan kepala.
            Menulis seperti ini pun hanya wacana, namun betapa inginnya penulis mengingatkan banyak orang untuk berhenti mengeluh dan bertindak lebih untuk lingkungan. Bukan hanya memikirkan diri sendiri. Talk Less Do More, bukan hanya semboyan yang hanya terpampang di banner-banner jalan. Talk less do more berarti lebih banyak aksi tanpa banyak bicara. Inilah yang harusnya orang-orang lakukan. Bukan menjadi hero dengan banyak terlihat berbicara di publik, namun lebih kepada tindakan yang banyak dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar. Semoga tulisan yang lebih kepada uneg-uneg penulis ini bermanfaat. Semoga pemerintahan selanjutnya tidak akan penuh dengan sekadar wacana.

Risty Khoirunisa


Komentar

Postingan Populer