Tentang Kehilangan


Di liburan winter break ini saya memutuskan mengunjungi seorang teman dekat yang sedang berkuliah di Italy, Kami berkunjung ke Milan juga ke Torino dan ke tempat-tempat lainnya. Tentu saja menyenangkan, amat sangat menyenangkan. 

Namun terjadi banyak hal diluar dugaan saat pulang, seperti kehilangan 50 euro entah dimana, lalu kehilangan tas yang berisi oleh-oleh di stasiun di Budapest dan sebagainya. Ya Allah, saya berpikir kenapa dikasih ujian yang seperti itu disaat sedang tipis-tipisnya pengeluaran. Kenapa harus hilang, rasanya waktu itu lemas mau nangis dan sebagainya tapi seketika itu juga disadarkan untuk bersyukur, bayangkan teman-teman yang berada di banten dan lampung sedang dirundung musibah, erupsi gunung anak krakatau di selat sunda yang akhirnya menimbulkan gelombang pasang/tsunami, namun saya disini masih sehat walafiat tidak kurang satu apapun, masih bisa jalan-jalan keluar negeri dan pulang dengan kondisi selamat tanpa kurang satu apapun, hanya kehilangan materi yang nantinya bisa dicari lagi. Alhamdulillahi rabbil Alamiin. Mungkin ini tanda dari Allah kalau aku kurang sedekah, juga kurang bersyukur :")


Berkali-kali aku merasakan kehilangan, yang kebanyakan dari itu adalah kehilangan materi, harta benda dan hal-hal yang bersifat fana yang kemudian aku sadari bahwa ini cara Allah untuk menegurku. Allah itu baik, baik banget tapi entah kenapa aku suka mempertanyakan kenapa takdir dari Allah begini dan begitu. Allah itu maha penyayang tapi entah kenapa hati nurani ini suka mempertanyakan perihal kasih sayang Allah dan bertanya-tanya kenapa hal seperti ini terjadi. Kenapa hal seperti ini selalu terjadi kepadaku? Mengapa selalu diuji dengan hal yang sama?

Tapi enggak ada habisnya pikiran seperti itu kalau cuma dipikir terus menerus, Berkali-kali kehilangan tapi tetap saja susah belajar buat ikhlas. Berkali-kali merasakan tapi tetap saja terus memikirkan mengapa? Entahlah. Mengapa kehilangan adalah hal yang amat sangat sulit untuk dilupakan juga diikhlaskan? 

Namun setidaknya aku bersyukur aku belum pernah merasakan kehilangan orang-orang yang berharga, orang tuaku bahkan kakek nenek masih lengkap, alhamdulillah masih diberikan umur panjang. Aku belum pernah merasakan kehilangan panca indera, aku masih bisa melihat segala pemandangan di dunia ini dengan baik, melihat sunset juga sunrise yang indah di tepi pantai, aku masih bisa merasakan berbagai rasa di dunia tanpa terkecuali, masih bisa mencium segala aroma yang ada, juga mendengar kicauan burung di pagi hari atau desiran ombak pantai yang menenangkan.

Aku masih memiliki banyak orang yang sayang kepadaku, yang peduli dan selalu menanyakan kabarku bahkan disaat aku jauh sekalipun. Masih ada orang-orang yang bersedia mendengarkan keluh kesahku, menghiburku disaat sedih dan selalu ada saat aku membutuhkan mereka. Bukankah aku seharusnya melihat itu semua sebelum aku mengeluh soal segala kehilangan yang aku alami?

Jadi sebelum bertanya-tanya soal semua kehilangan yang pernah terjadi baik fisik, materi atau orang terdekat, sebaiknya kita menilik kembali segala karunia yang sudah Allah berikan kepada kita. Sebelum kita sedih akan semua kehilangan, seharusnya kita ingat kalau semua yang kita punya adalah karena Allah menitipkannya ke kita, karena Allah sayang sama kita makanya Allah memberikan hal-hal duniawi pada kita, untuk sebagiannya kita kembalikan lagi kepada-Nya. Sebelum kita menangisi semua kehilangan, ada baiknya kita bertafakkur lalu bertanya pada diri sendiri apa saja yang sebenarnya kita punya? Bahkan kalau Allah menginginkan, bisa saja jiwa kita dihilangkan dari raga kita dalam sekejap, jadi untuk apa menangisi kehilangan di dunia?

Ada sebuah cerita menarik dari zaman Baginda Rasulullah SAW, tentang keteladanan Ummu Salamah, Istri dari Abu Thalhah, Saat sang suami pergi jauh untuk berperang fii sabilillah, Anak kesayangan mereka, anak mereka satu-satunya jatuh sakit dan meninggal di kemudian hari. Pada saat kembali ke rumah, Suaminya menanyakan anaknya kepada Ummu Salamah. 
Lalu Ummu Salamah menjawab, "Wahai kanda, apakah yang harus kita lakukan jika orang yang menitipkan barang, meminta kembali barang tersebut kepada kita?"
"Sudah tentu kita harus mengembalikan barang itu dengan serta merta." jawab Suami Ummu Salamah
Ummu Salamah lalu tersenyum lalu berkata lembut "Ketahuilah kanda, Allah SWT telah menitipkan anak kita kepada kita sekian lama dan pada hari ini Allah telah mengambil kembali titipan tersebut."

Masya Allah, bahkan saat anak kesayangan mereka, putra mereka satu-satunya berpulang ke rahmatullah, Ummu Salamah tetap tenang dan tidak menangisi kematian anaknya dengan berlebihan dan sadar kalau itu semua hanyalah titipan. Lalu kenapa kita harus menangisi harta kita yang hilang entah karena pencurian, kebakaran, atau apapun? Kenapa kita tidak coba ikhlas dan bersyukur atas keadaan kita sekarang? 

Sulit memang, tapi bukannya tidak bisa. Cara terbaik adalah sadar bahwa dunia hanya sementara dan semua yang kita punya adalah titipan. Lalu yang kedua selalu bersyukur, bersyukur dan bersyukur maka kamu akan temukan banyak hikmah dibalik setiap kehilangan dan hal itu malah mejadikan kamu lebih bersyukur.

Jangan menangisi kehilangan karena sejatinya kita tidak pernah kehilangan. Apa yang bisa dianggap hilang kalau kita saja bukan pemilik sejatinya? Status kita adalah pemilik sementara di dunia, pemilik sebenarnya bisa kapan saja mengambilnya.


"Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku" Umar Bin Khattab

Komentar

Postingan Populer