Lelahnya Kuliah di Luar bagi kaum Minoritas

Buat kamu kamu yang mau kuliah ke luar negeri, apalagi yang berjilbab dan memegang prinsip agama dengan tidak makan-makanan dan tidak minum-minuman selain yang dihalalkan agama dan sholat 5 waktu tanpa di qadha atau di jamak, lebih baik pikir-pikir lagi deh. Bukan mau menakuti-nakuti apa gimana, tapi kamu akan merasa sendiri dan kerapkali merasa terpinggirkan, karena alasan-alasan berikut :

  1. Mau tidak mau harus terpisah dari rombongan untuk mencari tempat yang layak untuk sholat
  2. Mau tidak mau harus terkucilkan karena tidak ikut ke pub atau bar, tempat mereka bersenda gurau dan melepas penat
  3. Mau tidak mau dianggap konservatif atau close-minded karena menutupi tubuh dengan hijab
  4. Mau tidak mau memang akan merasa diperlakukan berbeda pada saat bersosialisasi
  5. Mau tidak mau memang harus belajar cuek dengan perkara 1-4, tapi entah mengapa tetap saja kepikiran. Wanita memang berbeda dengan laki-laki, wanita menggunakan perasaan sehingga lebih sensitive, beda dengan lelaki yang mengedepankan rasionalitas nalar dan logika.
Mungkin karena itu beberapa teman yang kukenal dulunya menggunakan hijab, begitu mereka kuliah di luar negeri mereka menanggalkan hijabnya, mungkin tidak kuat diperlakukan berbeda. Iman benar-benar harus kuat, terutama di negara yang masih terkena islamophobia dan tidak begitu banyak umat muslimnya. Walaupun beberapa teman yang tinggal di negara dengan umat muslim yang cukup banyak seperti UK, Belanda ataupun Jerman pun ada yang melepaskan hijabnya.

Tadinya saya seringkali bertanya-tanya apa yang menyebabkan mereka melepaskan hijab mereka ketika berada di lingkaran komunitas internasional. Waktu itu saya masih belum mengerti benar apa susahnya, dan ketika sudah merasakannya saya akhirnya mengerti bahwa hal itu memang benar berat. Istiqomah itu sulit disaat tidak punya teman seperjuangan yang sama-sama saling menguatkan. Tentu ada teman-teman seperjuangan tapi tetap berbeda rasanya dengan di Indonesia, terutama dalam hal kuatnya ikatan dan kebersamaan. Masih Alhamdulillah saya bisa mengikuti Liqo online bersama teman-teman muslim yang berada di Eropa, kalau tidak saya tidak tahu bagaimana caranya bertahan. Jujur saja, di kota saya tidak ada komunitas muslim yang aktif mengadakan kajian atau semacamnya. Yah, wajar saja sih mengingat kota saya tinggal masih sedikit umat islamnya. Setidaknya sudah ada masjid disini, walau tidak begitu besar, dan hanya dibuka saat jam-jam sholat saja.

Kalau hati mau berteriak, rasanya sudah cukup lelah setahun terakhir bertahan dalam keistiqomahan, dan sepertinya ditahun kedua ini hati sudah memuncak, entahlah ibadah juga menjadi malas-malasan. Sholat dhuha seringkali ditinggalkan, puasa apalagi padahal saat di Indonesia cukup sering dilakukan. Entahlah malah merasa banyak kemunduran pada amalan yaumiyah, dan lelah sekali rasanya. Rasanya ingin kembali ke Indonesia dan tidak perlu melanjutkan sekolah lagi disini. Masih lama sekali sampai Juli 2020, sepuluh bulan masih harus dihabiskan dengan perasaan seperti ini. Entahlah, Ya Allah mohon kuatkan diri yang sudah amat sangat lelah ini, atau bisa jadi hanya perkara PMS saja makanya pikiran terasa amat sangat lelah dan menjadi sangat sensitif. Wanita dengan segala emosinya. Wanita dengan segala dramanya.

Memang waktu cepat sekali berlalu, mungkin 10 bulan disini tidak akan terasa nantinya. Tapi entahlah dengan membawa perasaan seperti ini rasanya sulit sekali bertahan, apalagi dengan kesendirian, tanpa adanya teman yang secara fisik ada untuk menguatkan, takut nantinya saya ikut terbawa arus dan tergerus keimanannya dan menjadi seperti teman-teman yang lain yang akhirnya memutuskan untuk membuka auratnya. Takut. Takut akan omongan teman-teman senegara lebih tepatnya ketimbang takut dosa. Takut mengecewakan Ibu Bapak juga, walau apapun yang aku lakukan mereka pasti akan tetap menerima aku, anaknya. Mungkin hanya ini yang menguatkan, karena takut. Tanpa rasa takut ini, mungkin akan benar-benar tergerus keimanan saya. Tapi mungkin keimanan saya memang sudah tergerus, betapa sekarang saya lebih takut akan omongan orang ketimbang perintah Tuhan? betapa mudah lelah dengan terpinggirkan dari kelompok? Betapa ada sekelebat pikiran untuk mencoba melepas tudungku agar lebih 'diterima'?

Jadi bertanya-tanya, apakah keputusan untuk berkuliah di Luar Negeri ini tepat? tepatnya di kota ini?


Komentar

Postingan Populer