Tentang merantau
Baru saja aku membaca bukunya Mbak Apik yang berjudul melangkah searah, diketemukan dengan judul merantau terlama dan hilangnya pertemanan. Tiba-tiba jadi sadar satu hal jika merantau selama 2 tahun disini saja terasa amat berat (wajar, berbeda saat merantau ke semarang yang notabene masih indonesia, negara berbeda juga butuh penyesuaian yang berbeda), bagaimana nantinya jika harus merantau seumur hidup (a.k.a menikah) ?
Tulisan mbak apik dengan segala asam manisnya awal-awal pernikahan membuatku jadi makin sadar kalau persiapanku menuju itu belum ada apa-apanya. Adaptasi setelah pernikahan mungkin akan lebih sulit dibandingkan saat ini. Menjaga aib sendiri lebih mudah ketimbang menjaga aib berdua, salah salah malah menjadi sebab pertengkaran. Bagi wanita apa lagi, sekali mereka menikah bisa dibilang mereka meninggalkan keluarga mereka dan bergabung dengan keluarga suami, yang membuat proses adaptasi si wanita lebih berat dibandingkan laki-laki. Kebanyakan begitu, walau ada kasus yang sebaliknya.
Lalu jadi mikir siap tidak nanti kalau diboyong suami ke tempat yang nun-jauh dari orang tua? Ini berbeda kasusnya dengan merantau untuk sekolah, bukan hanya beberapa tahun saja, tapi seumur hidup lho. Belum lagi dengan adaptasi dengan hal lainnya, terutama lingkar pertemanan yang semakin kecil juga aktivitas yang semakin berkurang. Dengan lingkar pertemanan yang makin mengecil, perasaan sepi mudah sekali merayap. Pun dengan aktivitas yang semakin berkurang, akan seringkali bosan dengan rutinitas pekerjaan rumah tangga. Sudah siap dengan semua itu?
Lalu jadi mikir siap tidak nanti kalau diboyong suami ke tempat yang nun-jauh dari orang tua? Ini berbeda kasusnya dengan merantau untuk sekolah, bukan hanya beberapa tahun saja, tapi seumur hidup lho. Belum lagi dengan adaptasi dengan hal lainnya, terutama lingkar pertemanan yang semakin kecil juga aktivitas yang semakin berkurang. Dengan lingkar pertemanan yang makin mengecil, perasaan sepi mudah sekali merayap. Pun dengan aktivitas yang semakin berkurang, akan seringkali bosan dengan rutinitas pekerjaan rumah tangga. Sudah siap dengan semua itu?
Merantau itu berat, mau bagaimanapun juga. Terbiasa merantau bukan berarti tidak kangen rumah, tidak kangen teman-teman di tempat lama. Kangen tetap ada tentunya, apalagi kalau sudah di negara orang yang amat sangat jauh berbeda atmosfernya. Kalau kata dilan rindu itu berat. Nah merantau itu berbanding lurus dengan rindu. Selalu ada selipan rindu dalam rantau. Pertanyaannya sudah siap terpisah seumur hidup dengan keluarga dan teman-teman lama? Sudah siap menahan rindu selama itu?
Komentar
Posting Komentar