Menikah itu..
"Duh susah itu susah, Menikah itu urusan hati" Jawab temanku suatu hari, saat kita sedang membahas planning masa depan. Bermula dari obrolan beasiswa, lalu dia yang bingung karena sudah 4 tahun bekerja dan seperti stagnan, tidak ada perkembangan baginya. Merasa tidak bertumbuh di tempat kerjanya yang sekarang dan berniat mencari beasiswa untuk karir yang lebih baik nantinya. Tapi kita tau sendiri kan beasiswa itu juga tidak mudah didapatkan, apalagi beasiswa keluar negeri. Dia yang bercerita soal kegamangan hati untuk keluar dari tempat kerjanya yang sekarang untuk fokus beasiswa, tapi bagaimana nantinya kalau aku tidak diterima dimana-mana? apa yang akan kulakukan? tanyanya.
Aku yang usil lalu berujar, "yaudah, nikah aja kak", yang langsung disambutnya dengan jawaban seperti diatas "Susah itu susah, Menikah itu urusan hati. Belum tentu ketemu dengan yang cocok". Lalu membuatku berpikir (tentu saja dalam hati), mengapa ada banyak orang yang bisa memulai pernikahan tanpa cinta (a.k.a menggunakan metode ta'aruf yang notabene hanya bertemu beberapa kali). Jadi bagaimana memperjuangkannya?
Menikah itu urusan hati, tetapi ada beberapa orang yang aku kenal, yang bertemu hanya beberapa kali, lalu memulai pernikahan dengan bismillah dan seiring berjalannya waktu rasa justru semakin membesar. Ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang sudah habis masa cintanya saat pacaran sehingga saat menikah rasa diantara mereka sudah meredup, tidak seintens disaat pertama kali baru mengenal.
Lalu apa menikah sesimple itu? hanya urusan hati. Nyatanya banyak yang sama-sama saling cinta tapi tidak bisa menikah dengan berbagai alasan, mulai dari ekonomi hingga ditentang orang tua, atau malah sebaliknya, ada yang harus memulai pernikahan justru tanpa menghadirkan hati, misal dijodohkan oleh orang tua atau yang lebih parah dinikahkan demi melunasi hutang, dan kejadian ini benar terjadi di dunia nyata, bukan hanya di sinetron. Mungkin orang tuanya tidak memiliki pilihan lain selain itu.
Menikah itu urusan hati, lalu bagaimana hati itu sendiri bekerja untuk mengiyakan seseorang, mengetahui that she or he is the one? dengan banyaknya pertemuan? banyaknya kesamaan? atau sefrekuensi dan satu tujuan?
Komentar
Posting Komentar