Memanusiakan Manusia
Beberapa hari ini membaca berita menjadi satu hal yang dihindari, bukan apa-apa, rasanya terlalu banyak kritik kebencian dan manusia yang semakin kurang beradab di negeri tercinta. Juga rasa-rasanya membuat hati was-was dan ketakutan semakin merajalela melihat angka-angka yang semakin meningkat. I know pemerintah kemarin begitu blunder dengan penanganan korona, dengan memberikan buzzer 72M untuk propaganda free of corona, alih alih dipakai untuk membelikan regent test untuk corona. Dan mungkin ini menjadi salah satu pemantik atau alasan kenapa angka yang terinfeksi korona di Indonesia meningkat dengan cepat, mungkin karena memang telat penanganan dan dirasa belum terlalu mengkhawatirkan saat itu. Mungkin ingin pula menghindari kepanikan yang berlebihan di masyarakat sehingga kebijakan yang seperti itu yang akhirnya diimpelentasikan. Kesal adalah hal yang tidak bisa dihindari, tapi karena itu sudah terjadi mari berhenti mengungkit.
Pemerintah sendiri pun pasti memiliki banyak pertimbangan dan kita tidak bisa menyalahkan satu orang semata atas kebijakan yang diambil karena kebijakan dibuat dari berbagai saran dan pertimbangan banyak pihak, bukan presiden semata. Ada yang namanya dewan penasihat, ada yang namanya menteri, dan juga petinggi-petinggi yang kita tidak tahu mungkin saja lebih dihargai oleh presiden sehingga muncullah kebijakan tersebut. Memang blunder, tapi bagaimanapun itu sudah terjadi. Apa untungnya mengungkit sesuatu yang sudah terjadi? Setidaknya pemerintah bisa belajar dan bebenah, maklum kita masih negara berkembang yang memang tidak semaju dan setanggap negara-negara lain.
Pemerintah sendiri pun pasti memiliki banyak pertimbangan dan kita tidak bisa menyalahkan satu orang semata atas kebijakan yang diambil karena kebijakan dibuat dari berbagai saran dan pertimbangan banyak pihak, bukan presiden semata. Ada yang namanya dewan penasihat, ada yang namanya menteri, dan juga petinggi-petinggi yang kita tidak tahu mungkin saja lebih dihargai oleh presiden sehingga muncullah kebijakan tersebut. Memang blunder, tapi bagaimanapun itu sudah terjadi. Apa untungnya mengungkit sesuatu yang sudah terjadi? Setidaknya pemerintah bisa belajar dan bebenah, maklum kita masih negara berkembang yang memang tidak semaju dan setanggap negara-negara lain.
Kita memang kalah penanganan dari negara-negara maju seperti China, Korea Selatan, dan Jepang yang sudah lebih tanggap dalam menangani corona ini tapi bukan berarti kita mencemooh kinerja pemerintah. Percayalah, no one wants this to happen. Marah boleh, hate comment boleh, tapi patuhi kebijakan sekarang. Mungkin dengan kondisi Indonesia, lockdown memang tidak memungkinkan karena ekonomi negara sendiri sedang dalam keadaan yang kurang bagus. Beda dengan negara-negara lain seperti New Zealand yang memberikan emergency economy response, uang untuk para warganya yang ekonominya terafeksi disini sehingga bisa stay at home, tanpa perlu khawatir berlebihan tentang dana dan keuangan, tidak seperti orang-orang di Indonesia. Disini kita belajar bahwa persiapan dana darurat dan perencanaan keuangan yang baik amat sangat penting, karena tidak ada yang tahu kondisi masa depan akan seperti apa. Bersyukurlah mereka yang belajar financial planning yang baik karena bisa survive dengan kondisi yang seperti sekarang ini.
Lalu lelah juga dengan segala komentar yang mengganggap orang yang tidak sholat di masjid, mencemooh pembubaran sholat jumat, sebagai orang yang lemah imannya. Lelah saja dengan komentar-komentar yang menukar langkah pencegahan dengan kata minim ketuhanan. Sholat di masjid itu bukan hal yang wajib kok, masih bisa di rumah. Rasulullah SAW juga pernah mengganti azan, hayya alla 'sholah dengan assholatu fii buyuutikum yang artinya sholatlah kalian di rumah kalian masing-masing pada masa terjadi wabah sejenis flu di madinah di waktu silam. Lagipulan bukan dilarang beribadah kok hanya dilarang untuk berkumpul. Kita bisa belajar dari para pemeluk agama kristen dan katolik yang menerima dengan baik penutupan gereja untuk sementara. Tunjukkan kita memang benar agama yang cinta damai dan benci kekerasan. Kita adalah agent of islam, perilaku dan perkataan kita mempresentasikan agama kita karena itu berkatalah yang benar lagi baik.
Memang kematian di tangan Tuhan, tetapi kita tidak pasrah saja menunggu kematian. Ada yang namanya ikhtiar. Seperti Umar Bin Khattab yang berbalik arah kembali ke Madinah saat perjalanannya ke Syam dan mendengar adanya wabah yang merebak di Syam. Umar menjawab saat ditanya apakah dia menghindari takdir Allah oleh Abu Ubaydah bin Jarrahn "Kita tidak menghindari takdir Allah tapi kita mencari takdir Allah yang lain". Abdurrahman bin Auf juga menambahkan, "Aku mengetahui sesuatu perihal ini, aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya" (HR. Bukhari Muslim)
Memang kematian di tangan Tuhan, tetapi kita tidak pasrah saja menunggu kematian. Ada yang namanya ikhtiar. Seperti Umar Bin Khattab yang berbalik arah kembali ke Madinah saat perjalanannya ke Syam dan mendengar adanya wabah yang merebak di Syam. Umar menjawab saat ditanya apakah dia menghindari takdir Allah oleh Abu Ubaydah bin Jarrahn "Kita tidak menghindari takdir Allah tapi kita mencari takdir Allah yang lain". Abdurrahman bin Auf juga menambahkan, "Aku mengetahui sesuatu perihal ini, aku pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, "Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika kalian berada di daerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya" (HR. Bukhari Muslim)
Lalu wabah ini juga memperlihatkan watak-watak manusia egois yang malah mencari keuntungan ditengah bencana, menaikkan harga masker dan hand sanitizer berkali-kali lipat, panic buying sehingga merugikan orang lain dan malah mungkin membuang bahan makanan karena bisa jadi sudah kadaluarsa sebelum termakan. Belum lagi cerita-cerita tenaga kesehatan yang diusir dari tempat kediaman. Baiklah takut itu hal yang wajar, khawatir, panik apalagi situasi sekarang kita belum tahu kapan akan membaik sehingga membeli bahan-bahan yang belum tentu termakan atau mengoleksi masker dan hand sanitizer menjadi salah satu hal yang dilakukan. Tetapi saya percaya pada dasarnya orang itu baik, hanya karena nalar saja yang sudah dipengaruhi dengan skenario terburuk yang mengakibatkan pola seperti itu. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan orang-orang terkasih sehingga mereka lupa memikirkan orang lain, dan ini hal yang wajar, sangat wajar.
Tetapi mari kita mulai kembali memanusiakan manusia, things will get better in the end, dan keadaan kita masih baik, masih bisa makan, masih bisa leha-leha, bisa stay at home, nonton drama korea, netflix-an, youtube-an, bisa melakukan hobi yang lama tidak dilakukan seperti merajut, baking, atau seremeh main the sims. Juga masih sehat wal-afiat tak kurang satu bagian tubuh apapun, dan mungkin masih bisa berkumpul dengan orang terkasih, sedangkan tidak semuanya bisa seperti itu.
Homeless people don't know what to do because they can't stay at home since they don't have a home to begin with, medical staff is doing a lot of works since it's their job and they have oath to fulfill, production staff can't work from home since if they work from home you won't have your groceries and daily needs in your home right now if they don't work. Because all of the machines can't be brought to home. They sacrifice their time for you, so be grateful if you still be paid even you are staying at home and please consider those who are not lucky enough as you when your selfishness come to the surface. When you bought daily needs consider them who don't have a lot of money to buy many necessities to begin with. When you have someone who works as a medical staff staying at the same place as you, thank them everyday and encourage them with endless support. When you know someone with the situation can't make him gaining money from home, support and care for them, be considerate to those people and that what makes us human. Please be patient, Allah will give you a reward as the same as martyr.
Homeless people don't know what to do because they can't stay at home since they don't have a home to begin with, medical staff is doing a lot of works since it's their job and they have oath to fulfill, production staff can't work from home since if they work from home you won't have your groceries and daily needs in your home right now if they don't work. Because all of the machines can't be brought to home. They sacrifice their time for you, so be grateful if you still be paid even you are staying at home and please consider those who are not lucky enough as you when your selfishness come to the surface. When you bought daily needs consider them who don't have a lot of money to buy many necessities to begin with. When you have someone who works as a medical staff staying at the same place as you, thank them everyday and encourage them with endless support. When you know someone with the situation can't make him gaining money from home, support and care for them, be considerate to those people and that what makes us human. Please be patient, Allah will give you a reward as the same as martyr.
Rasulullah SAW bersabda, "Maka, tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap di tempat itu dengan penuh kesabaran san mengetahuj bajwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang memang Allah SWT tetapkan, baginya pahala orang yang mati syahid (HR. Bukhari Ahmad). Insya Allah, reward will come to you, a lot of it. If it is not in the dunya, it is in hereafter. La tahzan, Innallaha ma'ana. Do not be sad, Allah here with us.
Jangan bersedih. Allah bersama orang-orang yang bersabar. Be patient, be grateful. Unproductive is okay, rebahan is okay, talking remeh temeh is okay, watching drama is okay, watching stand up comedy is more than okay, as long as you are healthy physically and mentally.
Mari berbaik sangka kepada Tuhan kita, Allah SWT dan kembali lagi kepada fitrah kita sebagai manusia untuk beribadah kepada-Nya (Adz-Zariyat 56). I honestly don't know this is bad or not, because one of a flatmate that rarely prays, moreover recites al-qur'an decided to start praying and recite al-qur'an nowadays. Our home nowadays always listen to murotaal and recite qur'an. She said since she always stay at home now and listen me recite qur'an, it makes her calmer and she decided to do so. It pushes me to recite more than usual also and it is a good things because without it we will feel empty and bored. We will be okay as long as we have Allah, right?
Dan Rasulullah SAW juga pernah bersabda, "Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya (HR. Bukhari). So, do not worry, like the plague that happened before, SARS, MERS, avian flu, swine flu, H1N1, H5N1, and so on, this COVID-19 shall pass too. Innallaha Ma'ana. Allah bersama kita. Mari kembali ke hakikat kita sebagai manusia, untuk beribadah kepada-Nya, dan memanusiakan manusia sebagaimana kita ingin diperlakukan. Take care other as you take care yourself. Do a good deeds while you can because you never know when the world will really end or when you will really die. As this period emerges, take the time for us to reflect and find the answer, if I really die now, do I have a lot of deeds so Allah can put me in Jannah in hereafter?
And do not take everything as granted. If Allah put you in a good situation now, a home, a fridge full of foods and drinks, a healthy body, a healthy mind, a healthy family (stay together or apart), a nice friend who regularly checks you up, a family who can support you, a partner who can you share burden with, a sister or brother you can chat to, a child who active, playful and bring your home to life. All in all, you have someone you can talk and depend to, who care enough about you, who chat you to know how you're doing, who text you to let you know that they change their number, believe me you are so lucky. Not all of people have those privilledge these days. So you are lucky, please be grateful. Be patient, this too shall pass.
Another lesson that I learned aside good financial planning is worthy, being a housewife seems okay in the future. Staying at home is not a bad thing, we can do so much at home.
Also the positive thing now I manage to finish my full draft of thesis yesterday, yeah! Now waiting the feedback from professor, and since work from home my supervisor has been replying to my email so fast. Yeay, alhamdulillah! :)
Another lesson that I learned aside good financial planning is worthy, being a housewife seems okay in the future. Staying at home is not a bad thing, we can do so much at home.
Also the positive thing now I manage to finish my full draft of thesis yesterday, yeah! Now waiting the feedback from professor, and since work from home my supervisor has been replying to my email so fast. Yeay, alhamdulillah! :)
Komentar
Posting Komentar