Azab atau Nikmat? dan Birrul Walidain
Halo Life! Seperti biasa, sibuk dengan internship juga masalah yang tiada habisnya, simbah juga sedang sakit jadi cukup banyak juga yang harus diurus, oleh bapak ibu terutama, masuk rumah sakit lagi hari minggu kemarin, dan sampai sekarang masih belum diperbolehkan pulang. Mohon doanya ya teman-teman, semoga segera diangkat sakitnya :)
Kemarin dapet banyak banget insight, ketemu seorang teman, sebut saja A, yang baru saja menikah, insight tentang prosesnya akan dibahas di post selanjutnya ya. Anyway memang niat ketemu adalah untuk kajian, untuk ikut rabbaniaans jadi sebelum ke rumah sakit mau kajian dulu dan karena si A ngajak ketemu jadi kubilang saja sekalian ketemu di rabbaanians atau d'lisya, tanpa tau sebenernya materinya apa.
Materinya sebenarnya terkait azab atau nikmat oleh Ustadz Ahmad Bazher, yang isi bahasannya terkait neraka dan surga serta kehidupan setelah kematian. Orang baik akan mendapatkan nikmat sakaratul maut, saat ruh dicabut walaupun tetap sakit rasanya akan mudah dicabutnya, sedangkan orang yang buruk akan merasakan azabnya saat sakaratul maut yang ruhnya akan dicabut paksa dari tubuhnya dan saat dibawa oleh malaikat tercium bau busuk yang tak terkira. Bukan hanya itu setelah ruhnya dipanggil, selama orang itu berada di alam kematian sampai dikumpulkan di padang mahsyar, orang itu akan di azab berkali-kali sesuai dengan keadaan amalnya di dunia.
Namun, lagi lagi Allah maha baik, selama kita beragama islam dan memiliki bibit islam di hati Allah tetap akan memberikan nikmat surga setelah kita menebusnya di neraka. Ada 3 Cara masuk surga bagi orang islam, masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab, dan masuk surga setelah 'mampir' dulu di neraka. Tuh, Allah baik banget kan?
Setelah materi ada sesi pertanyaan, ada seseorang yang bertanya hal menarik ini :
"Bagaimana mengukur kesholihan Anak terhadap orang tuanya?"
Jawaban yang disampaikan ustadz kurang lebih adalah kesolehan anak adalah seumur hidup, berbakti kepada orang tua adalah tugas anak seumur hidup walaupun orang tua sudah meninggal, bisa dengan berdoa, infaq atau sedekah atas nama orang tua. Selama apa yang diinginkan orang tua itu tidak bertentangan dengan agama wajib ditaati. Jika bertentangan, maka wajib diberitahu dengan cara yang baik dan didoakan. Sama seperti orang tua yang mungkin diberikan ujian melalui anak, anak pun bisa saja diberi ujian melalui orang tua. Kesholihan anak tidak ada ukurannya, bahkan walaupun orang tuanya sudah tidak ada, dia tetap harus berbakti dengan cara yang dia bisa.
Ini yang kusadari, birrul walidain, is every child's job forever and ever, mau seperti apapun mereka, kita tetap harus selalu berbakti. Mereka punya alasan atas setiap perbuatan dan kata-kata mereka, dan melapangkan hati untuk memaklumi orang tua sendiri atas apapun yang sudah dilakukan adalah penting. Kalau kita bisa memaklumi orang lain, kenapa kita tidak bisa memaklumi orang tua kita sendiri? Kalau kita bisa memberitahu orang lain, kenapa tidak dengan orang tua sendiri? Lagi-lagi dakwah terbaik bukankah seharusnya dimulai dari keluarga? sesulit apapun itu?
Setelah itu pun konsultasi pribadi, ada 3 orang dan pertanyaannya semua seputar orang tua dan keluarga (kakak/adik). Tidak mau terlalu detil tapi yang jelas satu hal : tugas kita memberitahu dan itu sudah cukup, selanjutnya doakan orang tua dan minta orang tua juga doakan kita serta adik dan kakak kita dan serahkan semua ke Allah, dengan cara berhusnudzhan sama Allah. Tiap-tiap dari kita memang tidak pernah punya keluarga yang sempurna, tapi justru ketidaksempurnaan itu membuat kita banyak belajar, bukan? Allah selalu punya cara buat ngejawab kegalauan kita bukan? Masya Allah ya.
Namun, lagi lagi Allah maha baik, selama kita beragama islam dan memiliki bibit islam di hati Allah tetap akan memberikan nikmat surga setelah kita menebusnya di neraka. Ada 3 Cara masuk surga bagi orang islam, masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab, dan masuk surga setelah 'mampir' dulu di neraka. Tuh, Allah baik banget kan?
Setelah materi ada sesi pertanyaan, ada seseorang yang bertanya hal menarik ini :
"Bagaimana mengukur kesholihan Anak terhadap orang tuanya?"
Jawaban yang disampaikan ustadz kurang lebih adalah kesolehan anak adalah seumur hidup, berbakti kepada orang tua adalah tugas anak seumur hidup walaupun orang tua sudah meninggal, bisa dengan berdoa, infaq atau sedekah atas nama orang tua. Selama apa yang diinginkan orang tua itu tidak bertentangan dengan agama wajib ditaati. Jika bertentangan, maka wajib diberitahu dengan cara yang baik dan didoakan. Sama seperti orang tua yang mungkin diberikan ujian melalui anak, anak pun bisa saja diberi ujian melalui orang tua. Kesholihan anak tidak ada ukurannya, bahkan walaupun orang tuanya sudah tidak ada, dia tetap harus berbakti dengan cara yang dia bisa.
Ini yang kusadari, birrul walidain, is every child's job forever and ever, mau seperti apapun mereka, kita tetap harus selalu berbakti. Mereka punya alasan atas setiap perbuatan dan kata-kata mereka, dan melapangkan hati untuk memaklumi orang tua sendiri atas apapun yang sudah dilakukan adalah penting. Kalau kita bisa memaklumi orang lain, kenapa kita tidak bisa memaklumi orang tua kita sendiri? Kalau kita bisa memberitahu orang lain, kenapa tidak dengan orang tua sendiri? Lagi-lagi dakwah terbaik bukankah seharusnya dimulai dari keluarga? sesulit apapun itu?
Setelah itu pun konsultasi pribadi, ada 3 orang dan pertanyaannya semua seputar orang tua dan keluarga (kakak/adik). Tidak mau terlalu detil tapi yang jelas satu hal : tugas kita memberitahu dan itu sudah cukup, selanjutnya doakan orang tua dan minta orang tua juga doakan kita serta adik dan kakak kita dan serahkan semua ke Allah, dengan cara berhusnudzhan sama Allah. Tiap-tiap dari kita memang tidak pernah punya keluarga yang sempurna, tapi justru ketidaksempurnaan itu membuat kita banyak belajar, bukan? Allah selalu punya cara buat ngejawab kegalauan kita bukan? Masya Allah ya.
Komentar
Posting Komentar