Bukti Bahwa Kita Hidup : Masalah
Halo :)
Saat ini aku sedang uring-uringan karena banyaknya masalah yang ada di kehidupan, terutama masalah keluarga. Dan karena media yang paling baik untuk menumpahkan rasa adalah melalui untaian kata, jadilah menulis kembali dilakukan untuk sekedar melepas sedikit penat. Yap aku tau, dengan menulis bukan berarti masalah akan kelar tetapi setidaknya bisa menjadi pengurang beban pikiran. Berbicara dengan diri sendiri juga dengan Allah pun sudah dilakukan tapi tetap saja banyak pikiran berkecamuk, sehingga dirasa perlu dikeluarkan dengan cara seperti ini.
Bagaimanapun masalah itu adalah bukti bahwa manusia itu hidup, selama hidup kita tidak akan pernah terhindar dari masalah, dan adanya masalah itu adalah salah satu cara pendewasaan diri yang baik. Walau kadang suka bikin pusing. Anyway ini yang aku kadang ga suka hidup di Indonesia, I mean kamu hidup seperti untuk kebahagiaan keluargamu, bukan kebahagiaan dirimu sendiri. You've forced to do something for the sake of happiness of your family. Lagi lagi apa pendapatmu tidak didengarkan, bagi mereka kamu tetap anak kecil yang mungkin pendapatnya tidak relevan dengan mereka.
Lagi lagi harus mengikuti kemauan tetua tanpa harus mengindahkan keadaan yang lain. Lagi lagi harus terpaksa menuruti perangai keras kakek yang juga turun ke ayah. Lagi-lagi ibu juga harus mengalah, menyimpan dongkol di hati karena bagaimanapun mengutarakan ke Ayah juga tiada guna. Lalu akhirnya menceritakan ke orang lain untuk membesarkan hati. Ini mengapa komunikasi dalam keluarga penting. Ini mengapa perlu adanya konseling keluarga ika memang itu dirasa perlu. Komunikasi dua arah adalah komunikasi yang seharusnya dilakukan dalam keluarga, saling diskusi dan saling mempertimbangkan pendapat masing-masing dalam situasi bagaimanapun tanpa harus membesarkan ego sendiri adalah penting. Kadang, view seorang anak atau istri bisa menjadi solusi. Kadang mendengarkan akan membawa pada suatu keadaan yang lebih baik. Namun sayangnya tidak semua dapat melakukannya. Terbiasa sendiri, terbiasa keras akan pendapat, terbiasa merasa benar sendiri, kadang menghantarkan pada sesuatu yang kurang baik diakhir. Kepala keluarga memang yang utama, tapi tentu saja dalam pengambilan keputusan tetap saja harus saling berinteraksi dan berdiskusi dengan anggota keluarga yang lain. Terlebih jika ada yang memberi saran, dengarkan tanpa memandang status, siapa tahu hal tersebut akan membawa pada kebaikan. Kerasnya batu tidak akan membawa manfaat apapun, bahkan kerap kali membawa masalah di jalan, tersandung atau bahkan kecelakaan.
Kadang hal yang paling tidak ku mengerti, hanya karena sebuah ikatan 'keluarga', kamu memaklumi hal-hal yang seharusnya tidak kamu maklumi, kamu melakukan hal-hal yang tidak ingin kamu lakukan, kamu mendengar hal-hal yang tidak ingin kamu dengar atau bahkan kamu mengucapkan hal-hal yang tidak ingin kamu ucapkan. Toxic family katanya. Kadang atas nama 'balas budi atau jasa' kamu mengiyakan hal yang tidak ingin kamu iyakan. Pergi dari rumah memang hal terbaik yang pernah aku putuskan, baik untuk kuliah atau bekerja, tetapi bagaimanapun Bapak Ibu sudah melahirkan dan membesarkan aku. Walau tentu saja dalam rentetan hidupku selama bapak ibu membesarkan banyak hal yang tidak menyenangkan terjadi, yang mau tidak mau, suka atau tidak, membawa diriku pada aku yang sekarang, membuatku bisa berdamai pada banyak hal, tentu saja karena sudah melalui banyak hal, bukan roman picisan seperti anak remaja pada umumnya tapi lebih dari itu. Berdamai juga bukan hal yang mudah, sangat sulit, dan itu masih terus kulakukan hingga sekarang.
Tentu saja aku tetap ingin Bapak Ibu bahagia, tapi aku ingin aku juga bahagia, yang ironisnya adalah caraku bahagia adalah dengan jauh dari keluargaku yang saat ini. Jujur saja aku lebih bahagia tinggal di luar negeri ketimbang di rumah. Jujur saja aku lebih bahagia bekerja di luar jakarta sehingga tidak perlu tinggal di rumah walau gaji tidak terlalu besar. Jujur saja tinggal lama di rumah memang membuatku bisa gila akan banyak hal. Namun ditengah itu semua aku harus akui hal-hal yang terjadi di kehidupan keluargaku justru membuat aku makin dekat dengan Allah, makin mengenal Allah.
Kadang suka mikir lebih baik meninggal di usia muda ketimbang hidup lama sampai tua tapi keadaan seperti ini. Lagi-lagi diingatkan bersyukur karena setidaknya banyak kehidupan lain yang lebih parah ketimbang yang aku hadapi. Lagi-lagi juga diingatkan bahwa ujian setiap orang berbeda-beda, mungkin ujianku adalah keluarga, dan ujian yang lain mungkin harta. Apapun itu mari kita sikapi dengan dewasa dan melibatkan Tuhan dalam prosesnya, agar kita tidak gila, agar kita tidak menyakiti diri kita sendiri pada prosesnya.
Komentar
Posting Komentar