[Cerpen] Memang Bukan Khadijah-Mu
Hari itu lain dari
hari-hari yang lain, hari dimana aku seperti tersambar petir di siang bolong,
hari dimana datang undangan pernikahan darimu yang selama ini selalu kupuja
dalam diam. Bagaimanapun aku mengerti benar memang mungkin takdir sudah berkata
aku bukanlah yang tertulis di Lauhum Mahfudz untukmu, tetapi hati ini sulit
menerima. Logika sulit mengambil alih emosi yang tak tertahankan saat itu. Lidah
ini memang bisa mengatakan kebohongan seperti kata turut berbahagia dan semoga
berkah dengan senyuman, namun dalam hati rasanya tak kunjung henti diri ini
mengutuk Tuhan. Astaghfirullah Al Adzim.
Aku tidak mengenal
calonmu itu siapa, tapi aku bisa mengira-ngira bahwa dia adalah orang yang
lebih baik dariku, lebih alim dan lebih pantas untuk dirimu. Apalah diriku yang
masih belajar menutup aurat sepenuhnya. Apalah diriku yang belum istiqomah
menggunakan baju gamis, kerudung panjang atau rok lebar dengan kaus kaki karena
masih takut dengan omongan orang sekitar. Apalah diriku yang salah niatan
diawal-awal memutuskan untuk menggunakan hijab. Ya, niatan untuk meraih
perhatianmu, bukan mengharap ridho-Nya. Maka pantaslah Tuhan menegurku dengan
cara ini.
“Assalamualaikum, Nana”
Sayup-sayup kudengar suara dari depan pintu. Ada Nisa, temanku yang datang
untuk mengerjakan tugas bersama.
“Wa’alaykumussalam,
Nis” Jawabku sambil buru-buru menyeka pipiku yang basah oleh air mata.
“Kenapa Na?” Tanyanya
heran, melihatku sembab dengan bekas air mata yang masih nampak.
Aku hanya menunjuk
undangan dengan gambar R & R terpampang disampul dengan desain rustic
diatas meja.
Nisa tersenyum
melihatnya, lalu berkata, “Barakallah Lakuma wa barakallahu’alaykum,
semoga dilancarkan untuk keduanya”
Lalu menoleh kepadaku,
dan berujar, “Dan buat kamu, gapapa kok menangis, tapi jangan lama-lama ya.
Masih banyak yang bisa kamu kerjakan ketimbang menyesali takdir yang sudah
terjadi. Perbanyak kegiatanmu untuk pengalihan Na, distraction, tentu
saja yang positif, supaya kamu dapat lebih mudah melupakan rasa sakitnya.”
“Aku tahu kok aku
memang belum pantas untuknya” Kataku sambal mengusap air mata.
Nisa tersenyum, “Na,
ini bukan masalah pantas atau tidak pantas. Tapi sesimpel hanya jodoh atau
bukan jodoh. Kamu akan bertemu jodohmu pada waktunya kok. Kan Allah sudah
menjanjikan bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan di Qur’an Surah
An-Nisa. Masak kamu enggak percaya janjinya Allah?”
Nisa mendekat dan
memelukku, lalu berujar, “Masih banyak yang sayang kamu kok Na, fokus saja sama
mereka yang sayang. Perluas juga pergaulanmu dengan lingkungan dan komunitas
yang baik, siapa yang tahu bertemu jodoh disana. Tentu saja bukan itu niat
utamanya. Lingkaran yang baik akan membantumu menjaga kebaikanmu juga, bukan?”
Aku menganggukkan
kepala, “Kupikir, mungkin ini cara Tuhan menegurku” kataku lagi.
“Maksudnya?” Tanya Nisa
sambil tetap memelukku.
“Dahulu niatan awalku
untuk berhijab adalah karena dia, bukan karena Allah. Mungkin ini cara Tuhan
memberitahuku agar jangan terlalu mencintai makhluk ciptaa-Nya dibandingkan Allah
sendiri, karena Allah bisa merenggutnya kapan saja”
“Nah kalau sudah tahu
salahnya dimana, tinggal diperbaiki aja. Kalau niatnya salah, yah tinggal diperbaiki
niatnya. Menjadi cantik seutuhnya di mata Allah, bukan di mata manusia. Menutup
aurat bukan untuk pujian, tetapi tanda ketaatan kepadaNya. Istiqomah bukan
karena ingin dicintai oleh dia, tetapi karena ingin menjadi yang dicintai Allah”
“Kalau dirimu sendiri
sudah tahu salahnya dimana, jadi lebih mudah memperbaikinya” Kata Nisa lagi.
Teman muslimah-ku yang satu ini memang panutan. Selain memang sudah
menyempurnakan cara menutup aurat dengan sebenar-benarnya syariat, akhlak dan
tutur katanya pun baik dan bersahaja. Benar-benar beruntung mendapatkan dirinya
sebagai sahabat yang membersamai disaat seperti ini.
“Tapi, aku bingung
bagaimana langkahku selanjutnya?” Ujarku sambil melepaskan pelukan Nisa.
Nisa tersenyum tipis “Berubah
jadi lebih baik tetapi niatannya diganti, bukan untuk seseorang, tetapi untuk
Allah. Lakukan segala sesuatu dengan niatan untuk Allah, agar tidak ada lagi
kekecewaan karena berharap pada manusia. Tanamkan bahwa segalanya adalah Milik
Allah, termasuk kamu dan jodohmu, yang bisa datang dan pergi kapan saja jika
Allah memanggil”
“Aku tahu teorinya,
tapi secara praktek memang sulit”
Nisa menepuk bahuku
lembut “Ada aku, Rara dan teman-teman yang lain, bukan? mari kita sama-sama
mengingatkan jika kita mulai berbelok dari jalan yang di ridhoi Allah. Itulah
sebenar-benarnya teman.” Ujarnya membuatku mengulas simpul senyum di bibir
setelah menguras air mata.
****
Hari pernikahannya tiba
dan aku datang untuk memenuhi undangannya walaupun rasanya hati ini masih sulit
menerima jika dia sudah bersama yang lain, terlebih aku belum pernah menyatakan
perasaan yang berkutat lama di hatiku ini. Mungkin karena itu juga perkara
melupakannya menjadi lebih sulit. Bisa saja rasanya akan lebih mudah
mengikhlaskannya seandainya aku sempat mengutarakan rasaku. Segera ku mengucap istighfar
dalam hati.
Ikhlaskan Nana,
Ikhlaskan, Semua sudah ada yang mengatur, Memang bukan dia jodohmu, Ingat,
semua sudah tertulis di Lauhum Mahfudz.
Melihat dirimu dan
dirinya, sang penggenap agamamu tersenyum bahagia membuatku sejenak lupa akan
sakitku dan ikut tersenyum. Istrimu memang anggun dan cantik sekali dibalut
gaun yang tertutup. Elegan. Akhirnya aku sadar mungkin memang benar aku bukan
Khadijah-Mu. Karena kamu seperti Nabi Muhammad SAW, bahkan namamu saja
mengikutinya di awal, Muhammad Ridwan. Dan mungkin memang wanita ini yang lebih
pantas disandingkan untukmu sebagai Khadijah. Layaknya Nabi Muhammad yang
selalu mencintai Khadijah walaupun beliau sudah meninggal dan memiliki
istri-istri yang lebih muda dan lebih cantik dibandingkan Khadijah, tapi mereka
tetap tidak bisa menggantikan tempat Khadijah di hati Nabi Muhammad. Wanita
yang selalu mendampingi beliau di masa-masa pertama kenabian yang amat menguras
jiwa dan tenaga. Bahkan rela memberikan harta bendanya untuk mendukung jalan
dakwah suami terkasihnya tersebut, tidak ada sedikitpun bantahan mengenai
seruan islam keluar dari bibir Ibunda Khadijah RA saat pertama kali Nabi
Muhammad menyampaikannya. Begitu percaya dan setianya beliau terhadap suaminya.
Satu-satunya wanita yang tidak pernah diduakan dalam hidup Nabi Muhammad SAW.
Aku jadi teringat sebuah
quote yang kulihat sekilas di sebuah media sosial, “Aku tidak
menginginkan kisah cintaku seperti Romeo dan Juliet, yang kuinginkan adalah
kisah cinta Muhammad dan Khadijah.”
Mengingatnya menjadi
suatu motivasi sendiri untuk memantaskan diri agar mendekati Ibunda Khadijah
RA, agar Allah mengirimkan sosok seperti Nabi Muhammad SAW. menjadi pendamping
di kehidupan.
Aku tiba-tiba
tersentak, buru-buru aku kembali mengucap istighfar, memohon ampunan, sekelebat
nasihat Nisa yang sempat dikeluarkan dulu membekas di ingatan, Nana Sayang,
ingat, ingat luruskan niat. Semua perubahan kamu harus berlandaskan Allah,
bukan Muhammad atau siapapun itu.
Sulit memang rasanya,
apalagi bagi wanita mengatur perasaan itu memang tidak mudah. Pasti ada saja
keinginan untuk mendapatkan seseorang yang dicintai sudah sejak lama. Kalau
sudah begini mesti banyak-banyak istighfar dan meminta kepada Tuhan agar
diteguhkan hati untuk selalu berdiri di jalan yang diridhoi-Nya.
“Na, ngapain bengong?”
Tepuk Nisa lembut pada pundakku.
“Masih mau makan lagi
enggak? Kalau enggak, yuk foto sama mempelai terus kita berangkat kajian”
Katanya lagi. Kami memang berencana untuk datang ke kajian di sebuah masjid di
daerah sudirman karena venue resepsinya memang didekat sana.
Aku menggeleng pelan
dan tertawa sambil mengelus perut yang buncit dengan isi makanan, “Sudah cukup.
Nih lihat perutku.”
Sambil menggandeng
tangan temanku itu, aku berujar, “Yuk, ke mempelai aja sekarang biar santai
jalan ke kajiannya”
Hari itu, hari
pernikahannya, pertama kalinya aku menggunakan baju gamis dan hijab panjang
sesuai dengan ketentuan syariat agamaku. Nisa tidak banyak berkomentar, hanya
tersenyum namun, aku tahu dia mendoakan dalam hatinya. Itu sudah sangat cukup.
Ada yang kagum dengan perubahanku yang dulunya menggenakan celana jeans, dan
jilbab yang hanya diselempangkan ke bahu kanan dan kiri berubah menjadi pakaian
yang banyak orang bilang syar’i. Bagaimanapun aku sedang berproses, menjadi seseorang
seperti Ibunda Khadijah, niatanku harus kuluruskan bukan untuk mencari pujian
manusia atau mencari cinta dari seseorang seperti Muhammad, tetapi niatku harus
berlandaskan satu hal, untuk mencari cinta Allah semata. Wahai Allah yang maha
membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
Komentar
Posting Komentar