“Ngapain Sekolah Tinggi-Tinggi, Kalau Ujung-Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga?”


“Ngapain Sekolah Tinggi-Tinggi, Kalau Ujung-Ujungnya Jadi Ibu Rumah Tangga?”

Pertanyaan diatas menjadi asal-muasal tulisan kali ini. Orang kerapkali berpikir untuk apa menyekolahkan anak-anak perempuan mereka tinggi-tinggi, toh nantinya akan mengurus suami dan anak saja. Lulus dari perguruan tinggi dan menjadi sarjana sudah lebih dari cukup. Bahkan, di daerah-daerah yang agak terpelosok, yang masih jauh dari sentuhan teknologi, SD atau SMP sudahlah cukup bagi mereka. Orang tua mereka kerap menikahkan mereka, bukan menyekolahkan. Maka dari itu pernikahan di usia dini kerap kali terjadi di desa-desa. Bagi mereka, anak-anak perempuan mereka kan lebih baik menikah ketimbang bersekolah. Kesejahteraan dan kebahagiaan mereka akan lebih terjamin dengan adanya suami yang mengasihi dan melindungi mereka.

Tunggu sebentar, kata siapa? Iya kalau suaminya baik, tidak patriarki, tidak otoriter, dan tidak sadistis. Sayangnya anak-anak mereka kerapkali menjadi istri kedua atau istri muda dari lelaki-lelaki tua, pengusaha auat orang kaya raya yang berdompet tebal, yang berlindung diengan kata poligami yang memang dibolehkan secara syariat agama. Pernikahan ini kerapkali dipaksakan demi membayar hutang kepada para rentenir yang membuat rakyat kecil yang sudah menderita semakin sengsara. Keterbatasan finansial kerap kali menjadi alasan untuk menikahkan anak-anak perempuan mereka di usia belia, usia dimana mereka seharusnya masih duduk mengenyam pendidikan. Inilah mengapa walaupun secara statistik jumlah lulusan perguruan tinggi lelaki dan perempuan berimbang di Indonesia, tetapi jumlah perempuan yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan lebih banyak ketimbang laki-laki.

Di negara kita yang masih sangat menganut budaya patriarki, dimana dominansi laki-laki amat terlihat di dunia kerja dan usaha, peran perempuan seringkali dianggap remeh. Padahal dibalik banyak lelaki sukses, ada banyak perempuan yang mendukung mereka, seperti ibu atau istri. Banyak lelaki yang berpikir perempuan tidak perlu bekerja keras di negara kita, Perempuan cukup mengurus rumah, dan lelaki yang bekerja. Bukan berarti perempuan yang mengurus rumah adalah hal yang buruk, tetapi lagi-lagi peran di rumah juga harus dibagi, tidak semuanya dilakukan oleh sang istri. Banyak yang berpikir untuk apa membuang uang banyak-banyak untuk pendidikan perempuan hingga sarjana, karena nyatanya setelah menikah kebanyakan dari mereka akan memutuskan untuk mengurus rumah.

Padahal, pendidikan perempuan juga sama pentingnya dengan laki-laki. Mereka sama sama bekerja keras, walau porpi mereka berbeda. Tanpa perempuan yang baik dan pandai tidak akan lahir generasi - generasi yang lebih baik. Bukan berarti mendukung aliran feminisme, disini saya hanya ingin menyetarakan persepsi akan perempuan dan pendidikan. Apalagi kalo sudah terkait jodoh. Banyak yang mengaitkan jika perempuan berpendidikan tinggi akan sulit mencari jodoh. Siapa mereka yang sibuk berkata seperti itu, memangnya mereka Tuhan?

Jodoh sudah ada yang mengatur dan tak ada kaitannya dengan pendidikan. Bagaimanapun jodoh sudah dituliskan Allah dalam Lauhul Mahfudz. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak ada pengaruhnya sama sekali. Outdate sekali jika masih berpikir seperti itu di zaman modern. Konversatif, Konvensional, apalah itu namanya. Dan memang kebanyakan yang berpikir seperti ini adalah orang yang hidup lama di zaman 90an, Generasi X yang masih terlalu mengikuti kebiasaan, adat dan semacamnya, yang percaya primbon, yang percaya anak ketiga dan anak pertama tidak boleh menikah, hal-hal tradisional semacam itu. 

Para perempuan memutuskan untuk melanjutkan kuliah yang lebih tinggi, demi cita cita dan harapan untuk menjadi lebih baik dan memberikan yang terbaik untuk keluarga kami nantinya. Karena bagi perempuan setinggi apapun pendidikannya, setara atau tidak dengan suami, bagi mereka suami adalah yang terutama dan pertama, yang harus dituruti kehendaknya selama masih sesuai dengan ajaran Quran dan Sunnah. Perempuan yang cerdas juga akan mampu memposisikan dirinya dengan baik. Setinggi apapun jabatannya di tempat kerja maupun pendidikan atau seberapa banyak penghasilan yg dihasilkan, saat di rumah ia hanyalah seorang Ibu dan Istri, Mau sepandai apapun, perempuan yang cerdas adalah perempuan yang mengerti bahwa suaminya adalah kepala keluarga yang memegang keputusan di rumah mereka, mengerti bahwa suaminya adalah pengantar sang istri untuk meraih surga.

Perempuan berpendidikan tinggi bukan untuk menyombongkan dirinya dihadapan para lelaki, bukan untuk agar lebih dominan dibanding lelaki, tapi perempuan berpendidikan tinggi agar keluarga dan anak - anaknya bisa berjalan beriringan, selaras dan seimbang. Karena bagaimanapun setiap anak berhak lahir dari perempuan cerdas. Sejatinya perempuan terus belajar selama hidupnya karena mereka merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak.

Komentar

Postingan Populer