Tentang Quarter Life Crisis




Orang-orang bilang umur 20an keatas dan sebelum 30 tahun rentan dengan stress, depresi dan berbagai kekhawatiran akan banyak hal, salah satunya masa depan. Orang biasa menyebutnya sebagai QLC, Quarter Life Crisis, atau krisis jati diri. Banyak yang bilang puncaknya adalah di umur 22-28 tahun, emosi banyak yang tidak stabil dan lebih banyak emosi negatif ketimbang positif. Mengetahui hal itu, kekhawatiran datang bila justru menikah disaat sedang labil-labilnya akan emosi. Jika tidak memiliki manajemen emosi yang baik, kasihan anak dan suami, menjadi pelampiasan emosi sang istri dan ibu yang seharusnya memberikan mereka rasa nyaman, terutama kepada sang anak. Di masa tumbuh kembangnya yang seharusnya diberikan kasih sayang dan belajar banyak hal malah harus menjadi sasaran kelabilan emosi sang bunda.

Contoh kasus, Seseorang yang menikah di usia 22 setelah tamat kuliah yang ditempuh dalam waktu 3.5 tahun dan langsung diberikan titipan walau rencana awalnya adalah ingin menunda dan bekerja terlebih dahulu. Stress sulit untuk dihindari terutama karena mereka tinggal di lingkungan yang dekat dengan mertua, walaupun tidak serumah tetap saja tidak bebas. Belum lagi umur yang masih muda, emosi yang tidak stabil, keinginan yang akhirnya tidak terpenuhi, juga maternity blues, yang tentu saja akan berdampak pada anak nantinya, terutama pada sisi psikologisnya. Karena itu bagi orang-orang yang menikah muda dan merasa belum siap untuk memiliki anak, KB sangat-sangat kuanjurkan. Bukan apa-apa, kasihan si anak bila nanti memiliki memoar masa kecil yang buruk dan penuh dengan hal yang tidak menyenangkan akibat ketidaksiapan mental Bapak dan Ibunya sebagai orang tua, akibat ketidakmampuan mereka mengelola emosi mereka yang berdampak kepada janin dan si jabang bayi.

Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan kenapa aku rasa lebih baik menikah di umur 27-29 tahun, setidaknya saat sudah memiliki anak nanti akan berumur 28-30 tahun dan sudah lebih stabil. Kasihan nantinya jika anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, menerima lebih banyak kebencian dan kemarahan ketimbang kasih sayang. Kasihan jika tempat mereka belajar dan berlindung nantinya justru memberikan mereka memoar-memoar menyakitkan.

Ini mengapa juga banyak wanita berorientasi pada seseorang yang lebih tua sebagai calon pasangan. Bukan apa-apa tapi memang nyatanya kebanyakan yang lebih bisa mengontrol emosi mereka dan mengayomi  pasangannya adalah seseorang yang secara umur lebih diatas. Walaupun kedewasaan tidak bisa dijamin dengan umur yang semakin tua, karena ada saja seseorang dengan usia 30 tahun yang masih memiliki pikiran dan bertindak selayaknya anak kecil, yang belum mengerti komitmen dan hanya ingin bersenang-senang di dunia. Iya, ada walaupun mungkin tidak banyak.

Usia 30 tahun keatas bisa dibilang seharusnya menjadi usia yang relatif tenang dengan segala hal, baik jodoh, pekerjaan ataupun finansial, mungkin karena itulah banyak orang-orang Asia Timur, contohnya Korea Selatan yang memilih untuk menikah di umur-umur segini, karena merasa sudah lebih matang dan stabil. Lagipula rata-rata dari mereka mengejar karir dan kestabilan finansial terlebih dahulu sebelum menikah. Ini yang menjadi momok pertimbangan untuk menikah di umur segitu. Entahlah, bukannya tidak ingin menikah sebelum umur tersebut. Tentu saja ingin, tapi rasa-rasanya terlalu jahat kalau menikah disaat pengelolaan emosi masih kurang seperti saat sekarang ini.

Di umur 25 tahun ini jadi memikirkan banyak hal dan mengambil kesimpulan kalau memang belum waktunya, belum saatnya, belajar banyak-banyak dulu agar si anak nantinya tidak merasakan masa kecil yang tidak menyenangkan. Terlalu jahat jika memberikan si kecil memoar negatif untuk tumbuh kembangnya. Belajar banyak-banyak dulu agar merasa siap sampai waktunya tiba.  

Komentar

Postingan Populer