Tentang kebiasaan mengomentari hidup orang lain (Judging) di Indonesia




Rasa-rasanya Indonesia cukup pantas menyandang predikat negara dengan tingkat ingin tahu yang tinggi di Dunia. Sayangnya keingin-tahuan yang besar itu disalahgunakan. Bukannya untuk mengetahui hal-hal penting dan memang layak untuk didiskusikan seperti gonjang-ganjing palestina Israel, kebakaran hutan Riau, atau hal lain yang memang layak menjadi concern, orang-orang Indonesia lebih suka mendiskusikan kejadian yang terjadi di kehidupan orang lain. Knowing every particular object (KEPO) they said. Entahlah harus dibilang terlalu peduli atau hanya sekedar penasaran dengan hidup orang lain. Kalaulah ngumpul, pasti setidaknya akan membahas seseorang, apalagi wanita, dengan segala emosi dan penghakimannya. Susah memang.

Padahal, mendengarkan orang lain berbicara buruk tentang orang lain hanya akan membuat image kita jelek. Orang lama-lama tak akan suka dengan orang yang kerap kali bertemu selalu membahas keburukan dan mengomentari kehidupan orang lain. Tak mau pula mereka membagikan cerita-cerita mengenai mereka karena mereka takut orang-orang tersebut akan menyebarkan cerita yang tidak-tidak tentang mereka. Begitulah orang-orang yang suka bergosip dengan Anda, akan melakukan hal yang sama, yaitu menggosipkan kehidupan Anda pada orang lain. Jangan kira mereka tidak akan melakukannya, karena mereka pasti akan melakukannya.

Orang-orang yang suka melakukan hal ini, ghibah atau bergosip, bisa dipastikan mereka bukan orang yang bisa kita percaya. Kalaupun mereka tertarik dengan apa yang terjadi di kehidupan kita, itu bukan karena mereka care atau peduli dengan kita, tetapi mereka hanya ingin mencari bahan gosip untuk diceritakan kepada orang lain. Mereka suka menjadi dan mencari perhatian dengan cara itu, mencari gossip atau berita lalu menyebarkannya.

Itulah mengapa kita mesti hati-hati menyebarkan sesuatu, dan harus mengecek kebenaran suatu berita yang kita kenal. Terutama dimasa sekarang dengan media digital yang berkembang luas menjadikan hoax dan berita palsu gampang sekali beredar luas. Komentar negatif semakin mudah dijumpai di berbagai social media..

Hidup bukan lagi beban berjuang secara fisik, tapi lebih kepada beban mental. Tidak heran tingkat stress dan depresi di Indonesia semakin meningkat, juga tingkat gangguan mental. Lihat saja RSJ yang setiap harinya selalu ramai dengan pasien, atau psiko-klinik yang semakin banyak hadir di Indonesia. Isinya bukan hanya orang-orang tua yang kesepian dan akhirnya sakit mental tapi juga banyak anak muda atau orang dewasa yang berobat kesana. Hanya saja sedikit sekali yang mau berbagi tentang sakit yang dialaminya karena mereka tidak mau dipandang aneh oleh masyarakat. Sepertinya profesi psikolog dan psikiater akan semakin menjanjikan di masa depan, karena akan makin banyak orang gila akibat pressure dari lingkungannya sendiri, omongan-omongan tetangga yang tak ada habisnya, yang selalu mencari celah kekurangan dari setiap kehidupan orang lain.

Seharusnya orang-orang bisa lebih mengerem omongan-omongan mereka dan memikirkan perasaan orang lain. Put themselves in other people’s shoes dan hidup tanpa mengindahkan kehidupan orang lain, fokus pada kehidupan sendiri, bukan orang lain. Tidak usah memberikan tekanan kepada mereka yang memang belum menikah di usia yang seharusnya, dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi seperti “kapan nikah?” atau, “Si A (mantan) udah nyebar undangan tuh kemarin, enggak pengen nyusul si A?”. Bisa saja memang orang yang ditanya belum ingin menikah atau memang sedang menikmati kesendiriannya sebelum memutuskan menikah. Atau malah bisa saja dia sedang menjalin hubungan tetapi tidak ingin mengumumkan apa-apa sampai semuanya pasti. Lagipula menikah itu adalah keputusan langit, bukan? Tentu saja memang kita harus ikhtiar, tapi tetap saja, lagi-lagi langit yang berhak memutuskan kapan waktu yang tepat.

Orang-orang harus belajar untuk mem-filter komentar mereka dan merefleksikan bagaimana rasanya jika pertanyaan atau pernyataan itu diajukan kepada mereka. Body shaming, bullying, terjadi mostly karena perkataan-perkataan yang dilontarkan seenaknya, tanpa memperhatikan perasaan orang yang dikomentari, baik offline maupun online, dan ini dapat tergolong kedalam verbal abuse, yang akan memberikan trauma secara psikologis. Hal ini sebenarnya lebih memberikan efek ketimbang physical abuse, karena trauma psikologis lebih sulit dihilangkan ketimbang trauma fisik. Bahkan bisa mendorong orang untuk melakukan bunuh diri, seperti banyak yang terjadi pada artis di Korea Selatan, semisal Sulli, Lee Sojin, dan Jonghyun. Banyak dari mereka juga yang mengidap depresi akibat komentar-komentar yang tidak pantas untuk ditulis itu, seperti Taeyeon, Lee Hi, dan banyak artis korea selatan lainnya.

Jadi, tolong lebih hati-hati untuk berkomentar. Pikir dahulu sebelum berkomentar apakah komentar ini akan melukai perasaan lawan bicara atau tidak. From now on please be careful with the word you said or you write. It could lead to a trauma for someone, even worse it could lead someone to lose their precious life in tragic way. Let’s put ourselves in someone’s shoes.

Komentar

Postingan Populer